Pertumbuhan Uang Beredar Melesat ke Rp 9.783 Triliun, Tapi Ada Tanda Perlambatan

- Minggu, 23 November 2025 | 07:42 WIB
Pertumbuhan Uang Beredar Melesat ke Rp 9.783 Triliun, Tapi Ada Tanda Perlambatan

Pada Oktober 2025, jumlah uang beredar atau M2 di Indonesia tercatat mencapai level yang cukup tinggi, yakni Rp 9.783 triliun. Angka ini masih menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 7,7 persen. Namun begitu, jika dibandingkan dengan bulan September, lajunya ternyata sedikit melambat. Waktu itu, pertumbuhannya masih bisa menyentuh 8 persen.

Lantas, apa yang mendorong pergerakan M2 ini? Menurut Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI, peningkatan tersebut terutama didorong oleh dua hal. Pertama, kenaikan uang beredar sempit (M1) yang mencapai 11 persen secara tahunan. Kedua, ada juga kontribusi dari pertumbuhan uang kuasi sebesar 5,5 persen. Di sisi lain, pergerakan aktiva luar negeri juga disebut-sebut punya andil dalam perkembangan M2 periode itu.

Denny memberikan penjelasan lebih rinci melalui keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (23/11).

"Perkembangan M2 pada Oktober 2025 dipengaruhi oleh aktiva luar negeri bersih, penyaluran kredit, dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Aktiva luar negeri bersih pada Oktober 2025 tumbuh sebesar 10,4 persen, melanjutkan pertumbuhan pada September 2025 sebesar 12,6 persen."

Dari sisi kredit, ceritanya agak mirip dengan M2. Pertumbuhannya memang masih berlanjut di angka 6,9 persen. Tapi, kalau dibandingin sama bulan sebelumnya yang tembus 7,2 persen, ya ada perlambatan juga.

Tagihan bersih ke Pemerintah Pusat pun tak luput dari tren perlambatan ini. Hingga Oktober, angkanya hanya tumbuh 5,4 persen. Padahal, di bulan September pertumbuhannya masih lebih tinggi, yaitu 6,5 persen.

Denny kembali menegaskan hal ini.

"Demikian pula tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 5,4 persen, setelah pada September 2025 tumbuh sebesar 6,5 persen."

Sementara itu, ceritanya sedikit berbeda untuk uang primer atau M0. Pada Oktober lalu, M0 tercatat naik 14,4 persen. Memang masih tinggi, tapi lagi-lagi, lebih lambat dari September yang melesat 18,6 persen. Totalnya sendiri mencapai Rp 2.117,6 triliun. Kenaikan ini didorong oleh giro perbankan umum di BI yang naik signifikan, 27,1 persen, serta uang kartal yang bertambah 13,4 persen.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar