Di tengah tekanan global, Bank Indonesia melaporkan perkembangan positif dari sisi utang luar negeri atau ULN. Pada Oktober 2025, posisi ULN Indonesia tercatat sebesar USD424,4 miliar, menunjukkan penurunan dibandingkan posisi triwulan sebelumnya yang berada di angka USD432,3 miliar.
Secara tahunan, ULN Indonesia bahkan mengalami kontraksi sebesar 0,6 persen pada Kuartal III-2025. Pertumbuhan ULN pemerintah juga menunjukkan perlambatan, dengan posisi di Kuartal III-2025 sebesar USD210,1 miliar dan tumbuh 2,9 persen, lebih lambat dari pertumbuhan di kuartal sebelumnya.
Perlambatan ini antara lain dipengaruhi oleh menurunnya aliran masuk modal asing ke Surat Berharga Negara domestik, yang mencerminkan tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. Dari sisi pemanfaatan, ULN pemerintah banyak dialokasikan untuk mendukung sektor strategis, seperti Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial.
Struktur Utang Luar Negeri Tetap Sehat
Meskipun Rupiah melemah, fundamental ULN Indonesia dinilai tetap sehat. Hal ini didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Indikator kesehatan terlihat dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto yang turun menjadi 29,5 persen pada Kuartal III-2025. Selain itu, komposisi ULN didominasi oleh utang jangka panjang dengan porsi mencapai 86,1 persen dari total ULN, yang memberikan stabilitas dalam jangka menengah dan panjang.
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah ke Depan
Mempertimbangkan seluruh faktor dan sentimen yang ada, proyeksi untuk perdagangan Rupiah ke depan diperkirakan akan berfluktuasi. Analisis memprediksi potensi pelemahan lebih lanjut, dengan pergerakan Rupiah diprakirakan berada dalam rentang Rp16.750 hingga Rp16.770 per Dolar AS.
Artikel Terkait
Emas Melonjak, Analis Ramalkan Sentuhan Rekor Baru di Atas USD 5.000
Emas Antam Tembus Rp 2,6 Juta, Kenaikan Tajam Warnai Pasar Pekan Lalu
Gairah Asing Borong Saham, IHSG Tembus Rekor Baru
Sertifikat SMKHP Buka Pasar Global, Selamatkan Ekspor Udang Rp 63 Miliar