Sebut saja kata "kanguru", dan pikiran kita langsung terbang ke padang rumput Australia yang terbentang luas. Hewan dengan lompatan jauh dan tubuh tinggi. Tapi tahukah Anda? Di belahan timur Indonesia, tepatnya di dalam hutan hujan Papua yang lembap dan lebat, hidup kerabat kanguru yang sama sekali lain karakternya. Makhluk ini tidak melintasi tanah terbuka. Ia justru menghabiskan waktunya memanjat, bergelantungan, dan menghilang di balik kerimbunan kanopi hutan. Namanya kanguru pohon, atau 'unijo' dalam sebutan lokal masyarakat Papua.
Secara ilmiah, mereka tergabung dalam genus Dendrolagus dan masih sekeluarga dengan kanguru darat biasa. Namun, jalur evolusinya mengambil belokan yang tajam. Sejak era Pliosen, tekanan hidup di hutan hujan tropis yang vertikal memaksa mereka beradaptasi menjadi penghuni pohon yang lincah dan senyap. Seperti diungkap Tim Flannery dalam bukunya, lingkungan inilah yang membentuk tubuh mereka secara radikal.
Bandingkan dengan kanguru Australia. Tubuh kanguru pohon lebih pendek dan kompak. Kaki belakangnya tidak terlalu panjang, tapi justru kuat dan fleksibel untuk mencengkeram. Kuku-kukunya melengkung tajam, sempurna untuk mencengkam batang pohon yang licin. Telapak kakinya lebar, kasar, dan empuk berfungsi seperti bantalan alami. Ekornya yang panjang pun bukan sekadar hiasan, melainkan alat keseimbangan utama saat mereka melompat dari dahan ke dahan.
Bulu mereka tebal dan lembut, melindungi dari suhu malam yang lembap. Warna bulunya beragam; ada yang cokelat kusam, merah kecokelatan, bahkan kuning keemasan. Pola warna ini membantu mereka menyamar di antara dedaunan. Menurut Colin Groves, Papua adalah pusat keanekaragaman kanguru pohon di seluruh dunia.
Hingga kini, para ilmuwan mengenali lebih dari dua belas spesies. Sebagian besar hidup di Papua dan Papua Nugini. Di Indonesia, kita masih bisa menemukan spesies seperti dingiso, goodfellowi, atau mbaiso di hutan-hutan pegunungan. Australia sendiri hanya punya dua spesies. Fakta ini jelas menegaskan bahwa Papua adalah rumah utama bagi makhluk unik ini.
Kalau kanguru darat aktif di siang hari, sepupu pohonnya ini justru lebih banyak bergerak saat malam. Mereka bisa disebut nokturnal ringan. Siang hari biasanya dihabiskan untuk beristirahat di cabang-cabang tinggi yang aman. Malam barulah waktu untuk mencari makan dan menjelajah. Roger Martin dan Mark Eldridge mencatat, aktivitas malam membantu mengurangi risiko serangan predator dan gangguan dari manusia.
Makanan mereka sepenuhnya vegetarian: daun muda, bunga, buah hutan, sampai tunas dan kulit kayu. Tapi mereka ternyata pemilih. Tidak semua daun akan dimakan. Pilihannya sangat bergantung pada kandungan nutrisi dan seberapa mudah makanan itu dicerna. Pola makan yang selektif ini, seperti dicatat dalam laporan konservasi tertentu, ternyata turut membantu menjaga regenerasi vegetasi hutan.
Sebagai marsupial, sistem reproduksinya unik. Masa kehamilan betina sangat singkat, hanya sekitar 44 hari. Bayi yang lahir sangat kecil dan belum berkembang sempurna, lalu segera merangkak masuk ke kantung induknya. Di sanalah ia akan menyusu dan tumbuh selama berbulan-bulan.
Artikel Terkait
Dari Racun hingga Obat: Kisah Pohon Sosis yang Menyimpan Dua Sisi
Budaya Instan dan Derasnya AI: Ketika Proses Belajar Tergantikan Ilusi Pemahaman
Studio di Saku: Galaxy Z Flip7 dan Gemini AI Jadi Partner Kreator Gen-Z
Mengapa Hidung Kita Selalu Ada di Depan Mata, Tapi Tak Pernah Terlihat?