Anak kanguru pohon baru mulai keluar-masuk kantung setelah berusia sekitar tujuh bulan. Proses penyapihan bisa berlangsung hingga usia 13 bulan. Dan pada umur 18 bulan, barulah ia benar-benar mandiri dan mulai membangun wilayahnya sendiri. Pola seperti ini membuat laju reproduksi mereka sangat lambat.
Kehidupan yang lambat itu sekaligus menjadi kelemahan. Satu induk hanya melahirkan satu anak per tahun. Jika induknya mati, hilanglah satu generasi. Di alam, ancaman dari ular piton atau elang sudah cukup berat. Namun, tekanan terbesar justru datang dari manusia.
Status konservasi mereka sungguh memprihatinkan. Daftar Merah IUCN tahun 2023 mencatat, sebagian besar spesies masuk kategori rentan hingga kritis. Beberapa, seperti tenkile, wondiwoi, dan mantel emas, bahkan terancam punah secara kritis. Populasinya anjlok lebih dari 80% dalam tiga dekade terakhir, terutama karena deforestasi dan perburuan.
Kisah kanguru pohon wondiwoi mungkin yang paling dramatis. Spesies ini pertama kali dicatat Ernst Mayr pada 1928, lalu hilang dari radar ilmu pengetahuan selama lebih dari 90 tahun. Dunia mengira mereka punah.
Hingga pada 2018, sebuah ekspedisi yang dipimpin Michael Smith berhasil memotretnya kembali di Pegunungan Wondiwoi.
Penemuan ini dirayakan sebagai salah yang terpenting dalam dunia satwa belakangan ini. Para ahli, termasuk Mark Eldridge dari Australian Museum, memverifikasi bahwa ciri-ciri fisiknya cocok dengan spesimen lama. Namun, kegembiraan itu dibayangi kecemasan. Populasi wondiwoi diperkirakan sangat kecil dan terisolasi, dengan habitat yang sempit dan belum sepenuhnya terlindungi.
Di Papua sendiri, posisi kanguru pohon cukup kompleks. Ia adalah satwa liar, simbol keanekaragaman hayati, tapi juga pernah menjadi sumber protein tradisional. Banyak warga yang baru menyadari kelangkaannya setelah mendapat edukasi. Perburuan, sayangnya, masih terjadi karena minimnya informasi.
Pada akhirnya, kanguru pohon bukan sekadar hewan yang lucu untuk dilihat. Mereka adalah indikator kesehatan sebuah hutan. Hilangnya mereka dari kanopi menandakan rusaknya ekosistem itu sendiri. Menjaga unijo berarti menjaga agar hutan Papua tetap bisa bernapas. Di tengah krisis iklim dan laju deforestasi, makhluk rapuh ini mengingatkan kita: hutan bukanlah ruang kosong. Ia adalah rumah bagi kehidupan yang tak tergantikan.
Artikel Terkait
Dari Racun hingga Obat: Kisah Pohon Sosis yang Menyimpan Dua Sisi
Budaya Instan dan Derasnya AI: Ketika Proses Belajar Tergantikan Ilusi Pemahaman
Studio di Saku: Galaxy Z Flip7 dan Gemini AI Jadi Partner Kreator Gen-Z
Mengapa Hidung Kita Selalu Ada di Depan Mata, Tapi Tak Pernah Terlihat?