WASHINGTON Di tengah hiruk-pikuk perang di Timur Tengah, penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, justru menyuarakan optimisme. Ia dengan tegas menyatakan ekonomi Amerika Serikat tetap kokoh, tak tergoyahkan oleh konflik yang melibatkan Iran. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa Washington siap menanggung biaya operasi militernya yang tidak kecil.
“Amerika tidak akan mengalami kerugian ekonomi akibat tindakan Iran,” tegas Hassett.
Ia melontarkan pernyataan itu dalam sebuah wawancara di program 'Face The Nation' CBS, Minggu lalu. Menurutnya, pasar keuangan sudah lebih dulu mengantisipasi gejolak ini. Alhasil, kekacauan tak terjadi. Yang menarik, Hassett mencatat bahwa harga energi di pasar berjangka bahkan terpantau masih rendah. Angka itu jauh dari bayangan menakutkan soal melonjaknya harga bahan bakar yang sempat beredar.
Padahal, kalau kita lihat angka yang beredar, pengeluaran AS tidak main-main. Konon, sekitar 12 miliar dolar AS telah dikucurkan hanya dalam dua pekan perang, sejak serangan pembuka bersama Israel akhir Februari lalu.
Angka sebesar itu diungkapkan Hassett sendiri saat didesak pembawa acara Margaret Brennan. Brennan sebelumnya menyodorkan isu bahwa AS mungkin telah menghabiskan 5 miliar dolar di pekan pertama saja. Hassett lalu mengonfirmasi data terbaru yang ia terima, yang jumlahnya bahkan lebih besar.
Namun begitu, di balik biaya besar itu, Hassett tetap tenang. Ia menepis mentah-mentah skenario terburuk tentang krisis ekonomi yang dipicu perang. Argumennya sederhana: dampak gangguan pasokan energi global justru akan lebih keras dirasakan oleh negara-negara lain, bukan AS.
Memang, kepanikan sempat merayap setelah Iran membatasi akses ke Selat Hormuz. Jalur sempit itu amat vital, menjadi lalu lintas bagi seperlima minyak dunia. Tapi bagi Hassett, gangguan di Teluk Persia itu adalah masalah bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan tersebut.
Dengan nada percaya diri, ia pun menyimpulkan, “Kita punya banyak sekali minyak.”
Klaimnya jelas: fondasi energi dalam negeri yang kuat menjadi tameng utama AS. Jadi, meski perang berkecamuk dan dana besar mengalir, sang penasihat ingin dunia percaya bahwa perekonomian Amerika tetap berdiri dengan stabil.
Artikel Terkait
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun
Malut United Pindah Markas Sementara ke Stadion Jatidiri demi Efisiensi Jadwal