Peringatan Nicholas Carr dalam bukunya di 2010 silam, rasanya makin pas untuk menggambarkan kondisi kita sekarang. Dulu, media sosial dianggap sebagai pembebasan. Siapa saja bisa menyebarkan berita tanpa perlu menunggu persetujuan redaksi. Jejaring pertemanan terbentang tanpa batas negara, dan hiburan bisa diakses kapan saja tidak lagi terikat jadwal siaran TV.
Kini, Kecerdasan Artifisial (KA) mendorong arus itu lebih deras lagi. Lihat saja, banyak platform digital sekarang langsung menyodorkan jawaban. Rapi, cepat, dan instan. Kecepatan semacam ini lambat laun mengubah ekspektasi kita. Jeda waktu sejenak pun kerap dianggap sebagai kesempatan untuk melakukan sesuatu, yang ujung-ujungnya adalah menyelam lebih dalam ke dunia online. Akibatnya, ruang untuk merenung dan berkontemplasi justru menyempit.
Data dari Pew Research Center cukup mencengangkan: 73% remaja AS mengakses YouTube setiap hari. Sekitar 60% lainnya membuka TikTok tiap hari. Hampir setengah dari mereka mengaku "online" hampir terus-menerus.
Laporan Common Sense Media (2023) juga menyoroti hal serupa. Lebih dari separuh remaja yang diteliti menerima setidaknya 237 notifikasi per hari. Bayangkan!
Deretan notifikasi yang tak putus-putus itu secara tak langsung melatih otak kita untuk memecah fokus. Pola ini kemudian berimbas pada hal-hal yang membutuhkan ketenangan: membaca buku tebal, berpikir runut, atau sekadar mengolah emosi dengan stabil. Nah, ketika media sosial bertemu dengan KA yang serba cepat, jarak antara rasa penasaran dan kepuasan menjadi amat tipis. Semuanya jadi ingin serba kilat.
Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kita benar-benar memberi jeda pada pikiran? Saat mengantri, di dalam commuter line, atau bahkan saat mendengarkan presentasi seringkali tangan ini refleks meraih ponsel. Ada kegelisahan aneh jika tidak mengecek email, membuka WhatsApp, atau melihat linimasa media sosial. Potensi bahayanya sampai-sampai membuat YouTube menambahkan fitur khusus untuk membatasi kebiasaan doomscrolling anak-anak di YouTube Shorts.
Dalam teori komunikasi, ada konsep agenda setting di mana media punya pengaruh besar dalam menentukan isu yang dianggap penting oleh publik. Di ekosistem digital sekarang, tren berganti dengan kecepatan luar biasa. Perhatian kita pun ikut melompat-lompat. Meski tidak lagi sepenuhnya dikendalikan redaksi tradisional, kecepatan itu sendiri tidaklah netral. Isu-isu kompleks yang butuh waktu untuk dicerna sering kalah bersaing dengan konten yang memancing reaksi spontan. Alhasil, debat publik lebih sering membahas topik yang mudah diviralkan, bukan yang perlu penyelesaian mendalam. Banyak orang merasa sudah berpartisipasi hanya dengan berkomentar atau membagikan unggahan. Padahal, keterlibatan yang berarti biasanya menuntut kesabaran: membaca, mengecek fakta, dan mempertimbangkan konsekuensinya.
Artikel Terkait
Unijo: Kisah Kanguru Pohon Papua yang Bergelantungan di Ambang Kepunahan
Dari Racun hingga Obat: Kisah Pohon Sosis yang Menyimpan Dua Sisi
Studio di Saku: Galaxy Z Flip7 dan Gemini AI Jadi Partner Kreator Gen-Z
Mengapa Hidung Kita Selalu Ada di Depan Mata, Tapi Tak Pernah Terlihat?