Budaya Instan dan Derasnya AI: Ketika Proses Belajar Tergantikan Ilusi Pemahaman

- Kamis, 29 Januari 2026 | 23:36 WIB
Budaya Instan dan Derasnya AI: Ketika Proses Belajar Tergantikan Ilusi Pemahaman

KA generatif membawa risiko baru yang lebih halus. Teknologi ini meniru cara manusia menghasilkan pengetahuan. UNESCO sendiri sudah mengingatkan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia, khususnya di bidang pendidikan dan riset. Soalnya, KA punya masalah akurasi, bias, dan ancaman privasi. Yang bikin runyam, risikonya sering tak kasat mata. Bahayanya tidak selalu berupa kebohongan terang-terangan seperti hoaks biasa. Justru, ia hadir dalam kalimat yang terdengar meyakinkan, logis, namun sebenarnya menyesatkan. Ketika jawaban datang dalam hitungan detik, banyak orang mengganti proses belajar yang berliku dengan ilusi pemahaman instan.

Budaya instan ini juga mengubah relasi kita dengan ilmu pengetahuan. Teori uses and gratifications menyebutkan bahwa orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya entah untuk hiburan, pencarian jati diri, atau sekadar informasi. Saat beban akademik, tekanan sosial, dan hiruk-pikuk linimasa bertabrakan, jalan pintas sering jadi pilihan. KA dan media sosial dengan mudah menyediakan pelarian itu. Hasilnya, kebutuhan akan validasi langsung mendominasi, sementara prestasi sejati cuma jadi ilusi belaka.

Gejala ini tercermin dalam laporan PISA 2022. Skor rata-rata Indonesia untuk literasi membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun hanya 369. Angka itu di bawah Thailand (394) dan Malaysia (404), apalagi jika dibandingkan dengan Vietnam yang mencapai 468.

Melihat kebiasaan berinternet kita, hasil itu mungkin tidak terlalu mengejutkan. Kita terbiasa mengulangi pola konsumsi yang sama: menelan video pendek berkecepatan tinggi, berganti-ganti konten tanpa jeda. Kebiasaan menyelam dalam lautan kata-kata di buku atau koran, kini berganti dengan sekadar meluncur di permukaan seperti naik jetski di atas air.

Efek serba instan ini merambah sampai cara kita berpendapat. Teori spiral of silence menggambarkan kecenderungan orang untuk diam ketika merasa opininya tidak populer. Di media sosial, arus percakapan yang bergerak cepat sering menciptakan ilusi tentang suara mayoritas. Orang lalu menilai mana opini yang harus diikuti berdasarkan intensitas unggahan, bukan kedalaman argumen. KA makin memperkuat keadaan ini. Kemampuannya memproduksi banyak teks yang seragam bisa menciptakan kesan konsensus palsu, tanpa ada mufakat yang sesungguhnya. Ruang publik kehilangan keragaman suara, dan diskusi berubah jadi ajang balap cepat: siapa yang bisa merespons paling pertama.

Ambil contoh kasus pengeroyokan guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi awal tahun 2026 lalu. Beberapa siswa memandang proses belajar sebagai beban, dengan guru sebagai sumber ketidaknyamanan itu. Ketika mereka mendapat validasi "gratis" dari media sosial, dan diperkuat oleh jawaban instan nan dingin dari KA, insiden kekerasan itu mungkin hanya satu dari sekian banyak risiko yang bisa muncul.

Pada akhirnya, masalah utamanya bukanlah teknologi itu sendiri. Masalahnya muncul ketika masyarakat mulai mengukur nilai segala sesuatu dari kecepatan, sehingga mengabaikan proses yang justru melatih kebijaksanaan. KA dan media sosial memang menawarkan kemudahan yang nyata. Tapi kemudahan itu harus diimbangi dengan norma sosial yang menempatkan ketelitian sebagai sebuah kebajikan. Tanpa itu, budaya instan hanya akan menjauhkan kita dari sisi paling manusiawi dalam diri kita sendiri.


Halaman:

Komentar