Sudah lebih dari sepuluh tahun, Industri 4.0 digadang-gadang sebagai wajah baru kemajuan. Semua bicara digitalisasi, robot, AI, dan IoT. Indonesia sendiri tak mau ketinggalan, meluncurkan program Making Indonesia 4.0 untuk mendongkrak manufaktur dan ekonomi nasional. Tapi, ada yang mulai terasa kurang.
Dunia kini sadar, tantangan global ternyata jauh lebih pelik. Perubahan iklim, kesenjangan sosial, ancaman PHK massal, dan rantai pasok yang gampang sekali putus. Semua itu menunjukkan satu hal: kecanggihan teknologi saja tak otomatis membawa kita pada kesejahteraan yang langgeng. Kemajuan harus punya arah yang lebih jelas.
Ketika Efisiensi Ternyata Punya Harga
Industri 4.0 memang jago soal efisiensi. Semua dioptimalkan, mesin jadi pengambil keputusan, sementara manusia sering cuma jadi bagian dari sistem. Hasilnya, output memang melonjak. Tapi, dampak jangka panjangnya mulai mengkhawatirkan.
Di Indonesia, otomatisasi di pabrik-pabrik dan gudang mulai bikin waswas. Banyak pekerja dengan keterampilan menengah terancam tersingkir. Belum lagi soal lingkungan. Eksploitasi sumber daya demi produksi massal jelas bikin kerusakan makin parah hutan berkurang, polusi dimana-mana, krisis air dan energi mengintip.
Pandemi COVID-19 jadi tamparan keras. Sistem industri yang terlalu mengandalkan efisiensi ternyata rapuh sekali saat krisis datang. Rantai pasok kacau, transportasi macet, dan banyak perusahaan kelabakan beradaptasi. Ternyata, kita butuh fondasi yang lebih kuat.
Industri 5.0: Bukan Ganti Teknologi, Tapi Ganti Hati
Di sinilah Industri 5.0 muncul. Konsep ini bukan untuk membuang teknologi, tapi menempatkannya pada posisi yang benar. Intinya sederhana: manusia harus kembali jadi pusat. Paradigma baru ini berdiri di atas tiga kaki: berpusat pada manusia, berkelanjutan, dan tangguh.
Jadi, bukan berarti kita anti robot atau AI. Justru sebaliknya. Teknologi dianggap sebagai mitra. Biar mesin yang urusan presisi dan kecepatan, sementara manusia fokus pada kreativitas, empati, dan pertimbangan etika. Kolaborasi macam ini diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja yang lebih bermakna, bukan cuma pekerjaan yang cepat dan murah.
Ambil contoh di sektor BUMN dan transportasi. Digitalisasi sistem perkeretaapian nggak cuma soal buat kereta tepat waktu. Menurut sejumlah pengamat, dalam semangat Industri 5.0, teknologi juga harus meningkatkan keselamatan, kenyamanan penumpang, dan tentu saja, kesejahteraan para pekerja di lapangan.
Artikel Terkait
Musk Tuntut OpenAI Rp 2.000 Triliun, Lebih dari Sekadar Urusan Duit
Xiaomi Siapkan Dua Pendekatan Audio untuk Gaya Hidup Digital
LandSpace, Murid SpaceX dari China, Gagal Mendaratkan Roket Reusable Pertamanya
China Larang Perangkat Lunak Keamanan AS dan Israel, Dukung Produk Lokal