McAfee mengambil sudut pandang berbeda. Mereka mengklaim fokus bisnisnya adalah pada segmen konsumen, bukan pemerintah atau korporasi. "Teknologi kami tidak dirancang untuk penggunaan pemerintah atau perusahaan," begitu bunyi pernyataan mereka.
CrowdStrike merespons dengan nada serupa. Mereka menyebut tidak menjual layanan, memiliki kantor, atau mempekerjakan staf di China. "Dampaknya hanya bisa sangat kecil," kata mereka.
Sementara Claroty menyatakan hal yang senada tentang tidak beroperasi di China. Gil Geron, CEO Orca Security, mengaku perusahaannya belum mendapat pemberitahuan resmi terkait larangan ini. Namun, dia menambahkan komentar pedas. Menurutnya, larangan terhadap perusahaan yang fokus pada pertahanan seperti Orca adalah "langkah yang salah."
Di pasar modal, reaksinya beragam. Pada perdagangan Rabu (14/1), saham Broadcom di NASDAQ anjlok lebih dari 4%. Fortinet juga ikut terpuruk, turun lebih dari 2%. Rapid7 mengalami penurunan lebih dari 1%. Namun, saham Palo Alto Networks nyaris tak bergerak, dan Check Point malah ditutup dengan kenaikan tipis.
Larangan ini muncul di saat yang menarik. Hubungan dagang AS-China sebenarnya sedang dalam fase 'gencatan senjata'. Reuters bahkan melaporkan persiapan kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing pada April mendatang. Namun, ambisi China membangun sektor semikonduktor dan AI-nya sendiri kembali memicu ketegangan.
Para pengamat di China punya analisis sendiri. Menurut mereka, Beijing semakin waspada. Layanan keamanan siber dari AS dan Israel dianggap bisa menjadi celah atau pintu belakang untuk aksi spionase oleh kekuatan asing. Kekhawatiran inilah yang mendorong upaya sistematis untuk mengganti perangkat keras, perangkat lunak, hingga layanan keamanan siber dengan produk domestik. Sebuah langkah yang punya dampak jauh melampaui sekadar urusan bisnis.
Artikel Terkait
LandSpace, Murid SpaceX dari China, Gagal Mendaratkan Roket Reusable Pertamanya
Dari Ganti Baterai ke MacBook Pro M4 Max, Kisah Pengguna yang Dapat Laptop Baru Gratis
Deforestasi Bikin Nyamuk Alih Profesi, Manusia Jadi Target Utama
Simpanse Jenius Ai, Penghuni Laboratorium Kyoto University, Tutup Usia