Keselamatan juga jadi kekhawatiran utama. Bayangkan, mereka harus berpacu dengan waktu dan menerobos kemacetan lalu lintas India setiap hari hanya untuk mengejar tenggat waktu yang nyaris mustahil.
“Model pengiriman ultra-cepat 10 hingga 15 menit secara signifikan mengubah profil risiko dan tingkat stres pekerjaan lepas,”
Demikian penjelasan Prabir Jha, CEO konsultan SDM Prabir Jha People Advisory, seperti dikutip South China Morning Post.
Desakan dari jalanan dan tekanan pemerintah rupanya mulai membuahkan hasil. Blinkit dilaporkan telah menghapus pesan-pesan pemasaran yang menjanjikan pengiriman 10 menit. Kabarnya, para pesaingnya pun akan segera mengambil langkah serupa.
Langkah ini sejalan dengan semangat undang-undang ketenagakerjaan baru India yang baru saja diberlakukan. Aturan itu secara resmi mengakui status hukum pekerja lepas dan platform. Yang menarik, perusahaan aggregator kini diwajibkan menyisihkan 1-2% dari pendapatan tahunannya maksimal 5% dari total pembayaran ke pekerja untuk dana jaminan sosial pemerintah.
Proyeksi ke depannya pun luar biasa. Menurut lembaga pemikir pemerintah NITI Aayog, ekonomi lepas India mempekerjakan sekitar 7,7 juta orang pada periode 2020-2021. Angka itu diprediksi bakal melonjak tiga kali lipat, mencapai 23,5 juta pekerja pada akhir dekade ini. Pertanyaannya, apakah pertumbuhan yang fantastis itu akan diiringi dengan kesejahteraan yang lebih baik untuk para pelakunya? Waktulah yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Bayi Pertama Antartika: Kelahiran yang Dirancang untuk Klaim Kedaulatan
Ujian Kepemimpinan: Berani Tak Populer untuk Selamatkan Sistem Pensiun ASN
Telkomsel Pastikan Jaringan Pulih Total, Fokus Kini pada Stabilitas Pascabanjir Aceh-Sumatera
Telekomunikasi Pimpin Gelombang Baru AI di ASEAN, Tapi Jalan Masih Terjal