Pemerintah China sedang menyiapkan aturan baru yang bakal memperketat pengawasan terhadap layanan AI. Khususnya, untuk teknologi yang punya kemampuan meniru kepribadian manusia dan berinteraksi secara emosional dengan penggunanya. Saat ini, regulasi itu masih berupa draf yang dibuka untuk mendapatkan masukan dari publik.
Menurut laporan Reuters, aturan ini menyasar produk dan layanan AI yang mensimulasikan sifat kepribadian, pola pikir, bahkan gaya komunikasi manusia. Simulasi itu bisa muncul dalam bentuk teks, gambar, audio, atau video. Ruang lingkupnya cukup luas: semua layanan yang tersedia untuk publik di China akan terkena dampaknya.
Di sisi lain, langkah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah di Beijing punya kekhawatiran serius. Mereka menilai, AI yang berperilaku terlalu mirip manusia berpotensi memicu risiko psikologis dan sosial yang tidak main-main jika dibiarkan tanpa pengawasan ketat. Intinya, China ingin memastikan perkembangan AI konsumen tetap selaras dengan standar keselamatan dan etika yang mereka tetapkan.
Nah, dalam draf yang beredar, ada poin-poin menarik yang wajib dipatuhi penyedia layanan. Mereka harus memberikan peringatan jelas agar pengguna tidak mengandalkan layanan ini secara berlebihan. Lebih dari itu, perusahaan juga diwajibkan melakukan intervensi ketika sistem mereka mendeteksi tanda-tanda kecanduan dari pengguna.
Artikel Terkait
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI
Resident Evil Requiem Catat Rekor, Terjual 6 Juta Kopi dalam Dua Minggu