Mood Swing Bukan Sekadar Perasaan, Ini Pengaruh Hormon di Balik Layar

- Rabu, 17 Desember 2025 | 15:06 WIB
Mood Swing Bukan Sekadar Perasaan, Ini Pengaruh Hormon di Balik Layar

Kita sering merasa punya kendali penuh atas perasaan dan emosi kita. Tapi, benarkah? Ternyata, ada pengaruh tak terlihat yang bekerja di balik layar: hormon. Ya, zat kimia yang sama yang mengatur pertumbuhan dan metabolisme itu juga punya pengaruh besar dan kadang mengejutkan terhadap suasana hati dan kesehatan mental kita.

Hormon itu pembawa pesan kimiawi. Mereka dilepaskan oleh kelenjar, lalu berjalan melalui aliran darah untuk memberi sinyal ke berbagai bagian tubuh. Bayangkan seperti jabat tangan biologis: saat hormon menemukan reseptornya, ia memberi perintah. Contoh sederhananya, insulin memerintahkan sel untuk menyerap gula dari darah.

Nah, yang menarik, para ilmuwan kini makin paham bahwa pengaruh hormon ini jauh melampaui fungsi fisik. Mereka menemukan bahwa hormon-hormon ini berinteraksi dengan neurotransmiter di otak, bahkan memengaruhi kelahiran atau kematian sel saraf. Akibatnya, mood kita bisa naik-turun karena mereka.

Kendali Tak Terlihat Itu Nyata

Lebih dari 50 hormon telah berhasil diidentifikasi dalam tubuh manusia. Puluhan pembawa pesan ini mengatur ratusan proses, mulai dari tidur, reproduksi, hingga yang paling kita rasakan: kesejahteraan mental.

"Hormon sangat memengaruhi suasana hati dan emosi kita," jelas Nafissa Ismail, profesor psikologi di Universitas Ottawa, Kanada.

"Caranya kompleks, berinteraksi dengan neurotransmiter dan memengaruhi proses seperti neurogenesis, yaitu pembentukan sel saraf baru."

Tak heran, risiko gangguan mental seperti depresi atau kecemasan cenderung meningkat saat tubuh mengalami transisi hormonal besar. Pengaruhnya tampak lebih kuat pada perempuan. Saat masa kanak-kanak, tingkat depresi antara anak laki-laki dan perempuan hampir sama. Namun, saat remaja, angka pada perempuan melonjak jadi dua kali lipat dan perbedaan ini bertahan seumur hidup.

Benarkah Hormon Penyebabnya?

Bagi perempuan, pengaruh hormon seks terhadap mood sudah seperti rahasia umum. Menjelang menstruasi, saat estrogen dan progesteron anjlok, banyak yang jadi lebih mudah tersinggung, lelah, atau cemas. Bahkan, sebagian mengalami PMDD (gangguan disforik pramenstruasi), di mana perubahan mood bisa sangat ekstrem hingga memicu pikiran untuk bunuh diri.

"Bagi banyak perempuan dengan PMDD, ini adalah masalah kronis yang mereka hadapi setiap bulan, dan dapat berdampak sangat besar," ujar Liisa Hantsoo, asisten profesor psikiatri di Universitas Johns Hopkins.

Sebaliknya, kadar estrogen tinggi sebelum ovulasi justru kerap dikaitkan dengan perasaan nyaman. Sementara allopregnanolone, turunan progesteron, punya efek menenangkan.

"Kalau seorang perempuan disuntik allopregnanolone, dia akan rileks," kata Hantsoo.

Fluktuasi hormon tak cuma terjadi saat menstruasi. Kehamilan, perimenopause, dan menopause juga jadi momen krusial. Contohnya, 13% perempuan mengalami depresi pascamelahirkan, diduga kuat karena penurunan drastis progesteron dan estrogen.

"Mungkin ini bukan soal kadar hormonnya semata, tapi lebih pada transisinya," papar Liisa Galea, profesor psikiatri di Universitas Toronto.

"Ada orang yang sangat sensitif terhadap fluktuasi ini. Sementara yang lain bisa melewati menopause tanpa gejala berarti."

Laki-laki pun tak sepenuhnya kebal. Kadar testosteron mereka menurun perlahan seiring usia. Meski perubahan ini lebih bertahap, bukti menunjukkan hal ini cukup untuk memicu perubahan suasana hati pada sebagian pria.

"Perubahan mood pada sejumlah pria seiring fluktuasi testosteron sepanjang hidup adalah topik yang masih kurang diperhatikan," tandas Ismail.

Lalu, bagaimana cara hormon seks memengaruhi mood? Salah satunya dengan meningkatkan kadar serotonin dan dopamin di otak. Estrogen, misalnya, bisa membuat reseptor serotonin lebih responsif. Teori lain menyebut estrogen melindungi neuron dari kerusakan dan merangsang pertumbuhan sel baru di hipokampus area otak yang vital untuk memori dan emosi. Menariknya, antidepresan dan psikedelik seperti psilocybin juga memicu pertumbuhan neuron di area yang sama.

"Estrogen bersifat neuroprotektif, mendorong neurogenesis," kata Ismail.

"Itu sebabnya, saat menopause, terjadi semacam 'penyusutan' yang kerap dikaitkan dengan 'kabut otak' dan masalah ingatan."

Ketika Tubuh Merespons Stres

Hilangnya neuron di hipokampus bisa mengacaukan sistem lain: sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), yang mengatur respons stres. Saat cemas, hipotalamus memicu rangkaian sinyal yang berujung pada pelepasan kortisol, si hormon stres.

"Sumbu HPA teraktivasi saat seseorang stres. Dalam jangka pendek, ini adaptif. Tapi kalau berkepanjangan, jadi merugikan," jelas Hantsoo.

Biasanya, ada mekanisme umpan balik untuk menghentikan banjir kortisol. Tapi pada stres kronis, mekanisme ini macet. Kortisol terus mengalir, memicu peradangan otak, membunuh neuron di hipokampus, amigdala, dan korteks prefrontal area yang mengendalikan emosi, konsentrasi, dan memori.

"Atrofi di amigdala dikaitkan dengan emosi yang meluap dan sulit mengendalikan perasaan negatif," papar Ismail.

Di sisi lain, ada hormon yang efeknya berlawanan: oksitosin. Sering dijuluki "hormon cinta", oksitosin menciptakan rasa nyaman dan kedekatan. Hormon ini dilepaskan saat melahirkan, menyusui, atau berpelukan.

"Oksitosin dikaitkan dengan perasaan aman dan bisa membantu melawan efek stres," kata Ismail.

Meski begitu, belum semua sepakat. Misalnya, belum pasti apakah oksitosin yang dihirup bisa benar-benar mencapai otak.

Yang lebih jelas justru peran hormon tiroid. Ketidakseimbangan hormon T3 dan T4 bisa picu kecemasan (jika terlalu tinggi) atau depresi (jika terlalu rendah). Kabar baiknya, mengoreksi kadar hormon ini sering kali langsung meredakan gejala pasien.

"Seringkali ketika kita mampu mengoreksi hormon yang bermasalah, suasana hati pun ikut membaik," ujar Ismail.

Harapan untuk Perawatan Baru

Pemahaman baru ini mulai membuahkan hasil. Brexanolone, obat yang meniru allopregnanolone, terbukti efektif tangani depresi pascapersalinan. Ada juga bukti bahwa suplemen testosteron bisa meningkatkan efektivitas antidepresan pada pria dengan kadar hormon rendah. Terapi estrogen juga membantu memperbaiki mood sebagian perempuan di masa menopause.

Tapi jalan menuju pengobatan yang tepat masih berliku. Kontrasepsi hormonal, contohnya, bisa jadi solusi bagi sebagian perempuan dengan PMDD, tapi justru memperburuk gejala bagi yang lain. Ini menunjukkan betapa rumit dan personalnya respons tiap orang terhadap hormon.

"Kita tahu hormon mempengaruhi kesehatan mental, tapi kita perlu paham betul caranya sebelum menemukan pengobatan yang tepat," pungkas Ismail.

Faktanya, antidepresan konvensional yang mengatur serotonin tidak selalu manjur, terutama pada remaja. Itu artinya, masih banyak yang harus digali. Penelitian ke depan perlu menyelami lebih dalam interaksi rumit antara hormon, otak yang masih berkembang, dan faktor-faktor unik yang membuat setiap orang berbeda.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar