Sistem Tower Ganda SMAN 1 Penebel: Solusi Inovatif Atasi Krisis Air di Bali
Program Tirtanovasi dari Bali Water Protection (BWP) yang dijalankan oleh IDEP Selaras Alam mendapatkan respons positif dari dunia pendidikan. Di SMAN 1 Penebel, Tabanan, program konservasi lingkungan ini menginspirasi lahirnya sebuah terobosan dalam menghadapi krisis air.
Sebanyak 15 pelajar SMAN 1 Penebel berhasil menciptakan Sistem Tower Ganda. Inovasi ini berupa dua menara air yang berfungsi menampung air hujan dan mendaur ulang air limbah dari cuci tangan.
Cara Kerja dan Manfaat Sistem Tower Ganda
Air limbah disaring menggunakan metode alami dengan lapisan arang, pasir, dan kerikil. Setelah melalui proses filtrasi, air hasil daur ulang ini dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman di lingkungan sekolah.
Menurut Guru Pembina Siswa Pecinta Alam (Sispala), Putu Adi Adnyana Negara, keunggulan sistem ini adalah tidak memerlukan listrik dan biaya pembuatannya yang rendah. Hal ini membuatnya mudah untuk ditiru dan diterapkan oleh sekolah-sekolah lain.
"Melalui kegiatan ini, siswa terlibat secara langsung dalam seluruh proses, mulai dari perencanaan hingga pemantauan volume air yang berhasil digunakan kembali," ujar Putu Adi.
Proses Lahirnya Inovasi Konservasi Air
Inovasi Sistem Tower Ganda berawal dari partisipasi para pelajar, termasuk Putu Krishna Jaya Mahendra, dalam pelatihan konservasi air di Desa Pinge pada tahun 2024. Dari pelatihan yang mempelajari teknik filtrasi air itulah, ide untuk mengikuti Lomba Tirtanovasi digagas IDEP Selaras Alam muncul.
Proposal pembuatan Tower Ganda yang mereka ajukan berhasil memenangkan pendanaan awal sebesar Rp 6 juta untuk merealisasikan gagasan tersebut.
Teknologi Filtrasi Alami dalam Sistem Tower Ganda
Sistem Tower Ganda memanfaatkan lapisan filtrasi yang terdiri dari enam bahan penyaring alami:
- Spon untuk menyaring kotoran dan lumut kasar.
- Arang aktif untuk menyaring bakteri mikro.
- Ijuk dari pohon enau.
- Pasir silika dan pasir zeolit yang berfungsi seperti filter akuarium.
Pasir silika mengandung enzim yang mampu menetralkan bakteri jahat dan menstabilkan pH air menjadi netral. Air hasil filtrasi ini telah diuji oleh Puskesmas Penebel dan menunjukkan pH 7, yang berarti normal. Air ini aman digunakan untuk cuci tangan, menyiram tanaman, dan keperluan toilet. Untuk air minum, disarankan untuk dimasak terlebih dahulu.
Dukungan IDEP Selaras Alam dan Sumur Imbuhan
Selain Sistem Tower Ganda, SMAN 1 Penebel juga mendapat bantuan untuk membangun sumur imbuhan dari IDEP Selaras Alam. Sumur sedalam tiga meter ini dibangun di area terendah halaman sekolah untuk menampung air hujan yang telah disaring dan mengalirkannya kembali ke dalam tanah, sehingga membantu recharge air tanah.
Media and Communication Officer IDEP Selaras Alam, Nicolaus Sulistiyo, berharap praktik baik ini dapat ditularkan ke sekolah-sekolah lain untuk bersama-sama menjaga lingkungan dari krisis air bersih.
Direktur Eksekutif IDEP Selaras Alam, Muchamad Awal, menegaskan bahwa pendekatan program ini adalah bottom-up. Masyarakat dan sekolah dilihat sebagai subjek dan agen perubahan yang mampu menghasilkan inovasi dan solusi lokal untuk menyelesaikan masalah publik, khususnya dalam konservasi air.
Artikel Terkait
BPOM: Indonesia Miliki 31.000 Jenis Tumbuhan Siap Jadi Bahan Baku Kosmetik Alami
Konflik Geopolitik Global Dongkrak Biaya Produksi Kosmetik Nasional
BMW Raup Pendapatan Sebelum Pajak Rp46,98 Triliun, Anjlok 25 Persen Imbas Tarif AS dan Serbuan Mobil China
Kemendag Terbitkan Aturan Baru, Perkuat Kewenangan Pemerintah dalam Penangguhan hingga Pencabutan Izin Ekspor