Fadilla, pemain Arema FC Women U-15, rela meninggalkan kampung halamannya di Batu Bara, Sumatera Utara, dan merantau ke Malang, Jawa Timur, demi mengejar mimpi menjadi pesepak bola wanita profesional. Tujuannya sederhana namun kuat: mengangkat derajat kedua orang tuanya.
Remaja berusia 14 tahun ini lahir di Desa Tanah Tinggi, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara. Sejak awal 2026, ia tinggal jauh dari keluarga untuk mengasah kemampuannya di lapangan hijau. Bergabung dengan Arema FC Women U-15, Fadilla kini berlaga di Hydroplus Soccer League (HPSL) U-15 Regional Surabaya.
Timnya tampil gemilang di regional. Mereka keluar sebagai juara di kategori U-15 dan berhak tampil di HPSL All-Stars 2026 yang berlangsung pada 5-12 Juli 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Sejauh ini, Arema FC Women U-15 telah bermain tiga kali, meraih dua kemenangan dan satu kekalahan, serta memastikan tiket ke babak semifinal. Fadilla sendiri telah menyumbangkan satu gol.
"Kuncinya komunikasi saja dengan tim pelatih supaya bisa kompak satu sama lain," ujarnya, Kamis (9/7).
Meski bergabung belakangan, Fadilla tampil apik dan menjadi andalan lini depan Arema. Ia mengaku keputusannya merantau ke Malang didorong oleh keinginan membantu orang tua. "Pertimbangan merantau ke Malang karena ingin membantu orang tua untuk meningkatkan derajat mereka. Saya ingin membanggakan orang tua," katanya.
Dukungan penuh dari kedua orang tua menjadi penyemangat terbesarnya. "Orang tua saya bilang, kejar saja cita-citamu, kalau mau main bola tidak apa-apa," ungkap Fadilla.
Selama di Malang, Fadilla fokus berlatih sepak bola. Ia tetap bersekolah di kampung halamannya di Batu Bara dan mendapat dispensasi untuk mengikuti HPSL All-Stars 2026. "Saya tetap bersekolah di kampung, di Batubara. Saat ini ada dispensasi, ada surat izinnya," jelasnya.
Membagi waktu antara sepak bola dan sekolah tidak menjadi beban. Sepulang sekolah, ia beristirahat sejenak sebelum berlatih pada pukul 16.00 WIB. Fadilla tak pernah mengeluh, justru tetap bersemangat. "Sekarang sudah satu gol, paling tidak bisa cetak lima gol cukup. Motivasinya mungkin lebih ke komunikasi saja ke depannya," katanya.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Dukung Kortas Tipikor Usut Dugaan Korupsi Batu Bara Picu Blackout Sumatera
Polri Usut Dugaan Korupsi Batu Bara yang Picu Blackout Sumatera, Kerugian Negara Capai Rp 5 Triliun
Polri Usut Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara yang Picu Blackout di Sejumlah Wilayah
PLN Disarankan Miliki Tambang Batu Bara Sendiri demi Kedaulatan Listrik Rakyat