Mantan ajudan Presiden Prabowo Subianto, Brigadir Jenderal Wahyo Yuniartoto, diduga memimpin rombongan puluhan anggota TNI yang mendatangi Markas Polda Metro Jaya pada Kamis pagi, 9 Juli 2026. Kedatangan itu terjadi sehari setelah polisi menggeledah 12 lokasi dalam penyidikan tiga perkara berbeda.
Informasi yang diperoleh Tempo dan dibenarkan dua petinggi Polri menyebutkan, Direktur C Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI Brigjen Wahyo Yuniartoto memimpin rombongan tersebut. Wahyo pernah menjadi ajudan Presiden Prabowo pada 2024. Selain Wahyo, Brigadir Jenderal Anggiat Napitupulu dari Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) juga dikabarkan datang bersama sepuluh personel TNI berseragam dan bersenjata serta lima personel Kejaksaan yang mengenakan pakaian sipil.
Namun, Kepala Pusat Penerangan TNI Brigadir Jenderal Muhammad Nas membantah informasi tersebut. "Saya sudah cek, informasi tersebut tidak benar," kata Nas saat dihubungi pada Kamis, 9 Juli 2026. Ia juga membantah adanya intervensi TNI terhadap proses hukum di Polda Metro Jaya. "TNI menghormati proses hukum dan tidak intervensi terhadap mekanisme yang berlaku," ujarnya.
Sejumlah saksi mata mengaku melihat puluhan anggota TNI di dalam kompleks Polda Metro Jaya sekitar pukul 03.40. Berdasarkan pantauan Tempo di lokasi pada pukul 09.00, sejumlah kendaraan dinas TNI berpelat hijau-merah hilir mudik di depan Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya.
Penggeledahan 12 Lokasi
Sehari sebelumnya, Rabu, 8 Juli 2026, tim gabungan Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri dan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menggeledah 12 lokasi dalam penyidikan perkara korupsi, tindak pidana pencucian uang (TPPU), dan suap. Penggeledahan itu berkaitan dengan dugaan suap di PT Asabri, korupsi pasokan batu bara yang menyebabkan blackout di Sumatera, serta perkara PT Krakatau Steel.
Penyidik juga menggeledah Kafe de'Clan Signature di Jalan Cilandak Tengah, Cipete, Jakarta Selatan, pada Rabu, 8 Juli 2026. Kepala Kortastipidkor Polri Inspektur Jenderal Totok Suharyanto mengatakan penggeledahan itu berkaitan dengan ketiga perkara tersebut. "Kami terus melakukan upaya penegakan hukum, saat ini dengan skema joint investigation dalam penanganan perkara korupsi dan pencucian uang pada proses penanganan hukum PT Asabri dan PT Krakatau Steel," kata Totok.
Kafe de'Clan Signature bukan kali pertama menjadi sasaran penggeledahan. Pada 2025, polisi juga berencana menggeledah kafe tersebut. Ferry Yanto Hongkiriwiang, pengelola kafe itu, diduga memiliki keterkaitan dengan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Ardiansyah. Polisi menangkap Ferry pada Senin, 28 Juli 2025, atas dugaan penculikan, penganiayaan, dan perintangan penyidikan. Menurut penyidik, Ferry menganiaya dan menculik personel Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.
Peristiwa pembuntutan terhadap Jampidsus Febrie Ardiansyah terjadi pada 19 Mei 2024 di restoran yang kini digeledah penyidik. Saat itu restoran tersebut masih bernama Gontran Cherrier. Sejak Agustus 2024, nama restoran berubah menjadi de'Clan. Febrie dikabarkan kerap menyantap sarapan di tempat itu.
Saat penggeledahan berlangsung, sebuah mobil Toyota Hilux milik Kejaksaan berpelat merah bernomor B 9254 SSC terparkir di halaman kafe. Di lokasi yang sama juga terparkir mobil bernomor polisi B 2275 K yang ditumpangi empat orang yang diduga berasal dari Kejaksaan. "Iya ini mobilnya orang Kejaksaan," kata seorang anggota Brigade Mobil (Brimob) yang berjaga di depan kendaraan tersebut. Tempo juga melihat seorang anggota TNI keluar dari area kafe. Polisi tidak meminta bantuan TNI dalam proses penggeledahan tersebut.
Setelah penggeledahan di Kafe de'Clan Signature, puluhan prajurit TNI berjaga di rumah Jampidsus Febrie Ardiansyah di Jalan Radio I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Rabu, 8 Juli 2026. Mereka terlihat menjaga gerbang dan area sekitar rumah.
Artikel Terkait
Rekaman Orang dan Mobil Terkait Jampidsus Muncul di Polda Metro Jaya Dini Hari
Mobil Tim Jampidsus Terpantau di Polda Metro Jaya pada Dini Hari
TNI Bantah Prajuritnya Datangi Polda Metro, Sebut Video Viral Tak Benar
TNI Bantah Intervensi Penanganan Perkara di Polda Metro Jaya