Serangan udara Amerika Serikat kembali menghantam Iran pada Rabu (8/7) malam waktu setempat, menandai hari kedua pertempuran antara kedua negara. Sedikitnya 14 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat rentetan serangan tersebut.
Kementerian Kesehatan Iran, Kamis (9/7/2026), melaporkan 14 korban jiwa dan 78 orang luka-luka. Dari jumlah korban luka, 47 orang masih dirawat di rumah sakit, sementara sisanya telah diperbolehkan pulang setelah menerima perawatan medis.
"Dari jumlah korban luka tersebut, sebanyak 47 orang masih dirawat di rumah sakit dan sisanya telah diperbolehkan pulang setelah menerima perawatan medis," kata kepala humas Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, dalam pernyataan via media sosial X.
Kementerian Kesehatan Iran tidak merinci apakah korban tewas merupakan warga sipil atau militer. Sebelumnya, militer Iran dalam pernyataan yang dilaporkan televisi pemerintah menyebut bahwa "delapan anggota pemberani dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut militer Republik Islam Iran di Bandar Abbas (wilayah selatan) dan Bushehr (wilayah barat daya) gugur sebagai syuhada".
Teheran mengecam serangan Washington sebagai "agresi kriminal". Pernyataan Kementerian Kesehatan Iran dirilis setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukannya telah menyerang sedikitnya 90 target militer Iran pada Rabu malam.
"Guna semakin melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang pelayaran komersial dan para pelaut sipil tak berdosa di Selat Hormuz," kata CENTCOM dalam pernyataan terbarunya.
Artikel Terkait
Prancis Tuding Iran Picu Serangan AS dengan Langgar Gencatan Senjata
Iran: Selat Hormuz Hanya Buka di Bawah Pengaturan Kami
Menlu Iran Balas Hinaan Trump dengan Tindakan, Bukan Kata-kata
Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Hampir Lumpuh Setelah Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir