Arab Saudi memangkas harga jual resmi minyak andalannya, Arab Light, untuk pasar Asia menjadi USD1,50 per barel di bawah rata-rata harga acuan Oman dan Dubai. Pemangkasan ini mencapai USD11 per barel dibandingkan bulan sebelumnya, sekaligus menjadi penurunan ketiga kalinya dalam lebih dari dua dekade.
Kebijakan ini merupakan respons terhadap kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada Juni lalu, yang membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan memungkinkan Iran kembali memuat minyak. Para analis menilai langkah ini juga dipicu oleh persaingan ketat di pasar minyak Timur Tengah, di mana produsen lain seperti Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) dan Kuwait Petroleum Corporation telah lebih dulu menjual minyak dengan diskon besar.
“Pemangkasan tajam OSP kontrak jangka panjang Arab Saudi dari bulan ke bulan tidak terlalu mengejutkan, mengingat minyak spot Timur Tengah yang menjadi pesaing diperdagangkan dengan diskon yang bahkan lebih dalam,” ujar analis dari Vortexa, Emma Li.
Meski memberikan diskon, harga minyak Saudi masih dinilai lebih mahal dibandingkan minyak Teluk lainnya. Sejumlah sumber di kilang dan perusahaan perdagangan Asia menyebutkan bahwa minyak mentah Arab Saudi untuk pengiriman Agustus tetap lebih mahal beberapa dolar AS per barel, ditambah biaya sewa kapal tanker yang tinggi untuk masuk ke kawasan Teluk.
“Saya bisa mendapatkan minyak Upper Zakum dan Das dengan harga diskon USD7 per barel, jadi mengapa saya harus membeli lebih banyak minyak Saudi?” kata seorang sumber di kilang India.
Sebagai contoh, minyak mentah Upper Zakum milik ADNOC dijual dengan diskon sekitar USD6-8 per barel terhadap harga acuan Dubai untuk pengiriman ship-to-ship di Pelabuhan Sohar, sementara biaya sewa Very Large Crude Carrier (VLCC) mencapai USD4-5 per barel. Sebaliknya, biaya VLCC untuk memuat minyak di Pelabuhan Ras Tanura di dalam Teluk diperkirakan lebih dari dua kali lipat, sehingga secara ekonomi jauh lebih mahal.
Akibatnya, Saudi Aramco diperkirakan akan terus menjual minyaknya di pasar spot untuk bersaing dengan produsen lain. “Mereka tahu harganya terlalu mahal, tetapi tetap mempertahankannya,” ujar seorang sumber perdagangan, seraya menambahkan bahwa langkah tersebut berpotensi membuat Saudi Aramco kehilangan pangsa pasar di Asia.
Artikel Terkait
Iran Jajaki Kembali Penjualan Minyak ke Jepang di Tengah Relaksasi Sanksi AS
OPEC+ Sepakat Naikkan Produksi Minyak 188.000 Barel per Hari pada Agustus
Arab Saudi Cabut Penangguhan Ekspor Udang Indonesia, BPOM Sebut Kepercayaan Pulih
Orang Saudi dan Makna Keberhasilan: Mencegah Lebih Baik daripada Menangani