Bagi orang Saudi, keberhasilan bukanlah ketika masalah berhasil diselesaikan, melainkan ketika masalah itu tidak pernah terjadi. Pandangan ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari budaya kerja, pencegahan korupsi, hingga penanganan perang dan pandemi.
Hartono Subirto, seorang WNI yang pernah bekerja di Kementrian Saudi, menceritakan pengalamannya. Di kantor, ia melihat perbedaan mencolok dengan budaya kerja di Indonesia. Ketika atasan datang, staf Saudi tidak berpura-pura sibuk. Mereka tetap santai, menonton YouTube, atau mengobrol. "Orang Saudi punya pemahaman tentang sebuah keberhasilan dari pekerjaan, yaitu apabila suasana kantor santai dan rileks. Namun apabila suasana kantor terlihat sibuk dan panik maka ada sesuatu yang tidak beres," tulis Hartono.
Dalam proyek pemerintahan, semua data pelaku proyek dimasukkan ke sistem pencegahan korupsi Nazaha. Setiap tahap, dari tender hingga commissioning, dimonitor sistem. "Orang Saudi sangat patuh mengikuti aturan yang dimonitor oleh sistem ini. Pernah saya coba idekan sebuah cara untuk menyimpang, sekejap mereka memarahi saya," kenang Hartono. Menangkap pelaku korupsi dianggap sebagai kegagalan sistem yang harus segera diperbaiki.
Kematian dalam Tugas dan Perang
Saat kakak teman Hartono gugur di Yaman Utara, keluarga bersedih tapi tidak ada yang menangis berlebihan. Kematian dalam tugas dianggap husnul khatimah. Namun, meski perang dimenangkan, itu bukanlah keberhasilan. "Keberhasilan sesungguhnya adalah tidak adanya perang," tulis Hartono. Ini menunjukkan keengganan Arab Saudi terlibat konflik, karena perang adalah kegagalan negara.
Pada masa pandemi Covid-19, Arab Saudi menerapkan pelarangan ketat. Hartono yang terpapar Covid-19 merasakan langsung penanganan di sana. Yang membuatnya takjub adalah sambutan perwakilan Kementrian Kesehatan saat ia dinyatakan sembuh. "Alhamdulillah, anda telah sembuh dan boleh kembali ke rumah, namun kesembuhan anda bukanlah keberhasilan kami. Karena kami telah gagal melindungi anda dari penularan. Untuk itu, kami mohon maaf," ujar petugas tersebut.
Hartono mengaku terharu. Ia pun mengadopsi prinsip orang Saudi: keberhasilan adalah mencegah kegagalan atau penyimpangan hingga zero cases. "Selama kegagalan atau penyimpangan masih terjadi walaupun bisa diperbaiki, maka itu bukanlah keberhasilan tapi perbaikan," pungkasnya.
Artikel Terkait
Pemkab Bone Luncurkan Aplikasi Sipakatau untuk Percepat Penurunan Kemiskinan
Gempa Kembar di Venezuela, Korban Tewas Mendekati 1.500 Jiwa
Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung, Apa Artinya? Ini Penjelasan dan Pro-Kontranya
Pemprov DKI Siapkan Rp100 Miliar untuk Beasiswa LPDP, Targetkan 50–75 Mahasiswa ke Luar Negeri