Yogyakarta Jadi Pionir Gerakan Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak

- Jumat, 03 Juli 2026 | 17:36 WIB
Yogyakarta Jadi Pionir Gerakan Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak

Pemerintah pusat menggandeng Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pelopor Gerakan Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (RANA) yang akan diluncurkan pada bulan ini, bertepatan dengan tahun ajaran baru. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno bertemu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Jumat (3/7), untuk membahas persiapan program tersebut.

“Ini tadi kami di Kemenko PMK meminta bantuan ke Ngarso Dalem (Gubernur DIY) karena kita ada beberapa program nasional. Sebentar lagi kan ada penerimaan siswa baru, jadi kita di tingkat nasional ada Gerakan RANA,” kata Pratikno usai pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu.

Menurut Pratikno, Yogyakarta dipilih sebagai pionir karena statusnya sebagai kota pendidikan yang memiliki banyak inisiatif di bidang perlindungan anak. “Kami mohon dukungan dari Ngarso Dalem karena DIY ini kan kota pendidikan, banyak sekali inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh DIY. Nah oleh karena itu salah satunya nanti Gerakan RANA ini pionirnya juga di Yogyakarta,” sambungnya.

Gerakan RANA tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga melibatkan orang tua, guru, serta penguatan sistem pendukung demi menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi anak. Pratikno menjelaskan, program ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain.

Dalam pertemuan yang sama, pemerintah juga membahas penguatan pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas. Pratikno mengakui berbagai inisiatif yang telah dijalankan DIY menjadi bahan pembelajaran bagi pemerintah pusat. “Nah oleh karena itu kami juga belajar dari DIY untuk berbagai macam hal tentang inisiatif, misalnya tadi kita juga membicarakan untuk pendidikan difabel,” ujarnya.

Selain pendidikan, perluasan akses kerja bagi penyandang disabilitas turut menjadi topik pembahasan. Pratikno mengatakan program pelatihan yang dikembangkan di DIY menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan nasional yang lebih inklusif. “DIY punya program untuk training-training bagi penderita difabel bisa mengakses lapangan kerja. Itu juga menjadi prioritas kami di Kemenko PMK. Jadi kami mengucapkan terima kasih dan banyak inspirasi yang bisa kita peroleh dari praktik-praktik baik di DIY,” kata Pratikno.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags