Sri Sultan Minta Wisatawan Tak Mendaki Gunung Merapi yang Masih Berstatus Siaga

- Kamis, 02 Juli 2026 | 14:36 WIB
Sri Sultan Minta Wisatawan Tak Mendaki Gunung Merapi yang Masih Berstatus Siaga

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengimbau para wisatawan untuk tidak melakukan pendakian ke puncak Gunung Merapi. Gunung berapi tersebut hingga saat ini masih berstatus Level III atau Siaga.

"Tapi ya harapan saya bagi turis, ya bagi pendatang, dalam arti dia memang mau berwisata, nah itu saya mohon memang jangan naik ke atas (Gunung Merapi), kan gitu," kata Sultan ditemui di DPRD DIY, Kamis (2/7).

Menurut Sultan, masyarakat yang tinggal di sekitar Merapi pada umumnya sudah memahami kondisi gunung tersebut. Namun, hal yang sama belum tentu berlaku bagi pendatang yang hanya berniat berlibur.

"Kalau masyarakat sekitarnya kan sudah paham. Tapi pendatang yang belum, ya sekadar mau bervakansi, berlibur, lah belum tentu tahu kalau ada aktivitas Merapi. Ya hati-hati, sementara ini jangan naik, gitu aja," ujarnya.

Sultan menambahkan, pihak yang paling berwenang memberikan informasi terkini tentang aktivitas Merapi adalah Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

"Ya memang sebetulnya kalau masyarakat sekitar Merapi itu paham. Iya kan? Dia pun juga tidak mau turun karena hanya mengalir aja (guguran dan awan panas) paling-paling dari atas 2 kilometer, 2,5 kilometer. Berarti tidak sampai pemukiman. Mereka sudah tahu sebetulnya," ujarnya.

Sebelumnya, BPPTKG telah menegaskan bahwa pendakian Gunung Merapi masih ditutup. Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso kembali mengingatkan potensi bahaya yang mengancam.

"Kami ingin menegaskan kembali bahwa aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan. Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat terlempar hingga mencapai radius 3 kilometer dari puncak," kata Agus saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (1/7).

Jangkauan lontaran material itu, lanjutnya, mencakup area yang selama ini menjadi jalur maupun batas akhir pendakian. "Sehingga sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut," katanya.

Agus menjelaskan, saat ini Merapi berada dalam fase erupsi efusif yang ditandai dengan keluarnya magma secara perlahan. Namun, dalam kondisi seperti ini potensi erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi.

"Bahaya ini dapat terpicu apabila jalan keluar magma mengalami sumbatan secara tiba-tiba," ujarnya.

Sumbatan itu akan menyebabkan akumulasi tekanan gas yang kuat di dalam kawah. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat melepaskan energi berupa erupsi eksplosif secara mendadak.

"Kewaspadaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan didasarkan pada data historis aktivitas vulkanik Merapi itu sendiri," kata Agus.

"Dalam catatan tiga abad terakhir, Gunung Merapi pernah menunjukkan lima tipe erupsi yang berbeda, dan faktanya, tipe erupsi yang bersifat eksplosif adalah yang paling sering terjadi. Bahkan, pasca-erupsi 2010, telah tercatat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh erupsi freatik. Oleh karena itu, selama potensi ancaman ini masih tinggi, penutupan aktivitas pendakian di daerah potensi bahaya merupakan langkah mitigasi utama yang harus dipatuhi," tegasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags