Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas, Jarak Luncur Capai 1,7 Kilometer

- Kamis, 02 Juli 2026 | 07:48 WIB
Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas, Jarak Luncur Capai 1,7 Kilometer

Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan meluncurkan awan panas guguran pada Kamis (2/7) pagi. Fenomena ini terjadi pukul 06.01 WIB, dengan jarak luncur mencapai 1,7 kilometer mengarah ke barat daya.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan, awan panas guguran tersebut memiliki amplitudo maksimal 30,75 mm dan durasi 139,58 detik. Material vulkanik bergerak menuju hulu Kali Krasak, salah satu sungai yang berhulu di puncak Merapi.

Sehari sebelumnya, pada Rabu (1/7) siang, Merapi juga meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur lebih jauh, yakni 2 kilometer. Kondisi ini menunjukkan peningkatan aktivitas yang perlu diwaspadai.

BPPTKG mengingatkan potensi bahaya dari status Gunung Merapi saat ini. Di sektor selatan-barat daya, guguran lava dan awan panas dapat mencapai Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik bisa menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.

Pendakian Masih Ditutup

Menyusul peningkatan aktivitas ini, pendakian Gunung Merapi masih ditutup untuk umum. Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menegaskan, aktivitas pendakian sangat tidak disarankan demi keselamatan. "Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat terlempar hingga mencapai radius 3 kilometer dari puncak," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (1/7).

Jangkauan lontaran material jika terjadi erupsi eksplosif bisa mencakup area yang selama ini menjadi jalur maupun batas akhir pendakian. "Sehingga sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut," kata Agus.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags