PKB Investigasi Dugaan Keterlibatan Kadernya dalam Intimidasi Dokter Icha

- Kamis, 02 Juli 2026 | 15:12 WIB
PKB Investigasi Dugaan Keterlibatan Kadernya dalam Intimidasi Dokter Icha

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akan menggelar rapat internal di tingkat DPP untuk menyelidiki dugaan keterlibatan kadernya, Robert Tubani, dalam kasus intimidasi terhadap dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha. Wakil Ketua Umum PKB Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan partainya tidak akan memberi toleransi jika terbukti ada pelanggaran hukum atau kode etik.

“Ya, kalau misalkan PKB disebut dalam kasus yang di mana, bukan hanya di TTU, kalau berbuat pelanggaran hukum, apalagi terkait dia tidak bisa menjaga kode etiknya sebagai anggota DPRD, ya kita akan berikan sanksi tegas,” ujar Cucun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/7). “Tidak ada toleransi, ya. Kalau misalkan betul-betul (terlibat). Kita belum melakukan investigasi apa pun, kita akan segera bahas juga di DPP ya.”

Cucun mengatakan hingga saat ini PKB baru mengetahui kasus tersebut dari pemberitaan media. Meski demikian, ia memastikan DPP akan segera menggelar rapat untuk melakukan investigasi. “Ya, kita kemarin terima di media, baca di media dan segera kita akan lakukan rapat untuk melakukan investigasi,” ujarnya. PKB juga akan berkoordinasi dengan struktur partai di daerah sebelum mengambil langkah lebih lanjut. “Ya, nanti kita lihat dulu. Kita akan tanya. Struktur kita kan ada di sana, ada DPW, ada DPC ya,” kata Cucun.

Sebelumnya, Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Yosep Falentinus mengungkap kronologi dugaan intimidasi yang dialami dr. Icha saat bertugas di IGD RS Leona, Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur. Peristiwa itu bermula ketika seorang pasien gigitan ular dirujuk dari RSUD TTU ke RS Leona karena rumah sakit pemerintah tidak memiliki dokter bedah yang dapat menangani pasien saat itu. “Di RSUD kami itu ada dua dokter bedah yang kebetulan dokter bedah yang pertama adalah sedang cuti. Dokter bedah yang kedua menghadiri adiknya meninggal, sehingga karena kita tidak ada dokter bedah, kita rujuk lah ke Rumah Sakit Leona,” kata Yosep. “Di Rumah Sakit Leona kebetulan yang menangani almarhumah Dokter Icha, yang kemudian langsung berkoordinasi langsung dengan pihak rumah sakit.”

Menurut Yosep, di RS Leona pasien ditangani dr. Icha. Namun, keluarga pasien meminta agar dokter segera menyuntikkan anti bisa ular. Padahal, tindakan tersebut tidak dapat dilakukan karena harus mengikuti standar operasional prosedur (SOP). Situasi kemudian memanas setelah terjadi intervensi terhadap dr. Icha. “Tetapi karena kepanikan akhirnya diintervensi lah, terjadi intervensi sampai dengan menjatuhkan martabat seorang dokter. Mungkin itu yang kemudian meningkat tensi kedua belah pihak, almarhumah Dokter Icha mempertahankan sesuai SOP, sudah menjalankan sesuai SOP. Yang ketiga anggota dewan memaksakan untuk melakukan vaksin, apa melakukan suntik itu. Nah kemudian ini yang kemudian berujung pada terjadi intimidasi,” ujarnya. Yosep mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, intimidasi tersebut diwarnai sejumlah ucapan yang diduga dilontarkan anggota DPRD. “Yang saya dengar ada salah satunya ‘saya juga mengerti SOP, saya pegang SOP’. Kemudian ada kalimat lontaran lain ‘saya komisi 3 akan saya panggil, saya pecat’,” katanya.

Tiga anggota DPRD TTU diduga terlibat dalam intimidasi tersebut, yaitu Theresius Lazakar dari Partai Golkar, Robert Tubani dari PKB, dan Veronika Lake dari PDI Perjuangan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags