Persepsi publik terhadap Presiden Prabowo Subianto di ruang digital cenderung positif, namun belum mencapai legitimasi mayoritas. Hal itu terungkap dalam riset terbaru Sintesa Strategi Indonesia (SSI) melalui platform pemantauan digital Datalinker, yang dirilis Jumat (3/7/2026).
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana citra Presiden terbentuk di internet sekaligus mengukur kontribusi Wakil Presiden, menteri, dan institusi pemerintah terhadap sentimen positif maupun negatif terhadap Prabowo. Menurut SSI, kajian itu dilatarbelakangi persepsi bahwa Prabowo masih menjadi figur utama yang menanggung beban komunikasi pemerintahan. Berbagai persoalan teknis di kementerian, implementasi program, hingga kontroversi kerap bermuara pada persepsi terhadap Presiden. Sementara itu, komunikasi jajaran kabinet dinilai belum sepenuhnya terintegrasi dalam menjelaskan atau memperkuat kebijakan pemerintah.
SSI mencatat ruang digital didominasi percakapan di media sosial yang mencapai sekitar 71 persen dari keseluruhan pembahasan mengenai Prabowo. Media online menyumbang sekitar 29 persen. Artinya, pembentukan persepsi publik lebih banyak berlangsung melalui interaksi pengguna media sosial ketimbang pemberitaan daring.
Dari sisi sentimen, SSI mencatat sentimen positif sebesar 41,5 persen, sentimen negatif 13,8 persen, dan 44,7 persen percakapan bersifat netral. "Persepsi publik terhadap Prabowo masih cenderung positif. Angka sentimen positif masih di bawah 50 persen sehingga belum mendapatkan legitimasi mayoritas," kata Direktur SSI Ikrama Masloman.
Analisis terhadap tone percakapan menunjukkan bahasa bernada kritis mencapai sekitar 17 persen, lebih tinggi dibandingkan sikap kontra sebesar 14,3 persen maupun sentimen bermuatan emosi negatif sebesar 13,8 persen. "Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian kritik yang muncul lebih banyak diarahkan pada kebijakan, implementasi program, maupun dinamika pemerintahan dibandingkan penolakan langsung terhadap figur Presiden," ujar Ikrama.
Kehadiran di Daerah Dongkrak Sentimen
Pada awal periode penelitian, percakapan publik didominasi sentimen netral hingga negatif. Kondisi itu dipengaruhi pembahasan RUU Polri, RAPBN, serta berbagai isu ekonomi nasional. "Pada periode ini, kritik di media sosial terutama muncul terhadap arah kebijakan pemerintah serta berbagai isu politik yang berkembang," kata Ikrama.
Memasuki pertengahan periode penelitian, sentimen mulai membaik seiring pemerintah aktif menyampaikan perkembangan investasi nasional dan optimisme ekonomi melalui berbagai kementerian. Sentimen positif mencapai puncaknya menjelang akhir periode saat Presiden Prabowo menghadiri Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo serta membuka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026. SSI menilai kehadiran langsung Presiden dalam agenda di daerah menjadi faktor yang memperkuat persepsi positif di ruang digital, meski kritik terhadap gaya komunikasi dan pidato Presiden tetap muncul di media sosial.
Komunikasi Kabinet Belum Jadi Penyangga
SSI juga menemukan komunikasi pemerintahan masih sangat bertumpu pada figur Presiden. Dari total lebih dari 231 juta paparan konten mengenai Prabowo, kurang dari 20 persen yang secara langsung berkaitan dengan nama Wakil Presiden maupun para menteri. Dari jumlah tersebut, lebih dari 33 juta paparan berasal dari 10 anggota kabinet dengan tingkat eksposur tertinggi.
"Mayoritas kabinet belum menjadi penyangga citra Presiden. Komunikasi pemerintahan masih bertumpu pada figur Presiden. Dari 231,4 juta paparan konten terkait Prabowo, kurang dari 20% yang berkaitan langsung dengan nama anggota kabinet, di mana lebih dari 33 juta terpaan disumbang dari 10 besar nama kabinet Tier 1," kata Ikrama.
SSI membagi eksposur anggota kabinet ke dalam tiga kelompok. Kelompok Tier 1 atau dominan terdiri atas Gibran Rakabuming Raka, Bahlil Lahadalia, Nanik, Letkol Teddy, dan Purbaya. Kelompok Tier 2 terdiri atas Qodari, Amran Sulaiman, Fadli Zon, Prasetyo Hadi, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sementara sebagian besar anggota kabinet lainnya berada pada kelompok dengan eksposur rendah.
"Hanya sedikit menteri yang berkontribusi signifikan terhadap persepsi publik. Bahlil Lahadalia menjadi penyumbang sentimen positif terbesar (40,1%). Gibran Rakabuming menjadi penyumbang sentimen negatif terbesar (27,1%). Qodari mencatat sentimen positif tertinggi pada kelompok Tier 2 menengah (73,3%)," ujar Ikrama.
Metodologi Penelitian
Penelitian dilakukan melalui pemantauan platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, serta media online pada periode 5 Juni hingga 2 Juli 2026. Data dikumpulkan menggunakan metode keyword-based crawling, kemudian melalui proses seleksi relevansi, penghapusan data duplikat, klasifikasi otomatis berbasis kecerdasan artifisial, serta validasi oleh tim peneliti.
Artikel Terkait
Said Iqbal Sebut Kasus Penyekapan Karyawan Percetakan Jadi Perhatian Prabowo
Peneliti: Prabowo Dikhawatirkan Tolak Duet dengan Gibran di Pilpres 2029
Presiden Belarus Menginap di Istana Negara, Jadi Tamu Pertama Prabowo
Prabowo Terima Kunjungan Kenegaraan Lukashenko, Indonesia-Belarus Luncurkan Peta Jalan Kerja Sama 2026-2030