PMI Manufaktur RI Kontraksi, Kemnaker Siapkan Langkah Antisipasi

- Jumat, 03 Juli 2026 | 17:40 WIB
PMI Manufaktur RI Kontraksi, Kemnaker Siapkan Langkah Antisipasi

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menyoroti penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global. Indeks tersebut berada pada level 46,9 pada Juni 2026, turun dari 50,0 pada Mei 2026. Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi atau pelemahan sektor manufaktur.

Menurut Afriansyah, diperlukan intervensi untuk menggenjot daya sektor manufaktur yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian. S&P Global juga menyoroti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam laporannya. Kementerian Ketenagakerjaan pun menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.

"Memang kami harus segera mengantisipasinya. Kami mempersiapkan peluang-peluang kerja yang lain, pelatihan-pelatihan yang memang mereka terdampak PHK, re-skilling, upskilling yang mereka butuhkan," kata Afriansyah saat ditemui di kawasan industri Cikarang, Jawa Barat, Jumat (3/7/2026).

Indeks PMI adalah indikator ekonomi utama yang mengukur kesehatan sektor manufaktur dan jasa. Skor di atas 50 menandakan ekspansi, sama dengan 50 berarti stagnan, dan di bawah 50 mengindikasikan kontraksi. Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mencatat dua kali penurunan manufaktur Indonesia dalam tiga bulan terakhir menutup semester pertama 2026.

Penyebab utama penurunan pada Juni adalah melemahnya permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun. Pelaku industri mengaitkan penurunan tersebut dengan melemahnya daya beli yang dipicu tekanan harga.

Penurunan juga terjadi pada pesanan ekspor baru, yang tercatat paling tajam sejak Agustus 2021. Tren negatif permintaan mendorong perusahaan menurunkan output selama empat bulan berturut-turut dan paling tajam sejak April 2025. Penurunan kebutuhan produksi dan permintaan juga menghambat ketersediaan stok, sehingga stok barang jadi menurun selama dua bulan berjalan dan pada laju lebih cepat dibandingkan Mei 2026.

Produsen barang juga menurunkan jumlah tenaga kerja lebih banyak pada Juni. Laju PHK tergolong solid namun merupakan yang paling besar sejak September 2021. Pada saat yang sama, aktivitas belanja bahan baku turun selama empat bulan berturut-turut dan pada laju tercepat sejak Agustus 2021. Beberapa perusahaan mencatat bahwa kenaikan harga bahan baku dan kendala pasokan juga menghambat aktivitas pembelian.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags