Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan krisis air bersih di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, yang berdampak pada 1.129 kepala keluarga. Minimnya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir menjadi penyebab utama bencana ini.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa krisis terjadi akibat curah hujan yang sangat rendah. "Krisis air bersih terjadi di Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, akibat intensitas hujan yang sangat rendah dalam beberapa waktu terakhir," ujarnya dalam keterangan resmi.
Wilayah terdampak meliputi sejumlah kelurahan di empat kecamatan. Di Kecamatan Rasanae Barat, krisis melanda Kelurahan Tanjung, Paruga, dan Pane. Di Kecamatan Mpunda, terdampak Kelurahan Sambinae, Panggi, Manggemaci, dan Monggonao. Sementara itu, Kelurahan Rontu di Kecamatan Raba dan Kelurahan Melayu di Kecamatan Asakota juga mengalami hal serupa.
Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa atau kerugian materiil akibat kekeringan tersebut. Namun, dampak sosial dirasakan langsung oleh ribuan keluarga yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagai langkah penanganan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima segera melakukan asesmen dan koordinasi lintas instansi. Mereka telah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak 70.000 liter kepada masyarakat terdampak.
Artikel Terkait
Menkes: Jus Kemasan Lebih Tepat Disebut Air Gula, Bukan Jus Buah
Kuasa Hukum Protes Penghentian Penyelidikan Laporan Pencurian di Kasus Pemerasan Pengusaha Muda
Helikopter Aramco Jatuh di Ras Tanura, 14 Orang Tewas
KPK Raup Rp39,8 Miliar dari Lelang Barang Rampasan Juni 2026