Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 34 kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode Jumat (31/7) pukul 07.00 WIB hingga Sabtu (1/8) pukul 07.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 31 kejadian berdampak signifikan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa kejadian baru didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana kekeringan. "Berdasarkan hasil pemantauan, sejumlah kejadian baru didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana kekeringan di beberapa wilayah Indonesia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/8/2026).
Salah satu karhutla terjadi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Kamis (30/7/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan bahwa cuaca yang sangat terik membuat lahan mudah terbakar dan api cepat menjalar. "Hasil kaji cepat sementara oleh tim BPBD Kabupaten Pinrang, kebakaran menghanguskan sekitar tiga hektare lahan yang masuk wilayah Kelurahan Temmassarangnge, Kecamatan Paleteang. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Kondisi terkini, Jumat (31/7) api telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan," ungkap Aam, sapaan Abdul Muhari.
Karhutla juga melanda Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Kamis (30/7/2026), dengan luas lahan terbakar sekitar empat hektare di Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang. BPBD setempat menduga penyebabnya adalah kelalaian warga membakar lahan untuk membuka lahan tanaman palawijawa. Setelah tim gabungan turun melakukan pemadaman, api berhasil ditaklukkan dan kondisi dinyatakan terkendali.
Di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, karhutla terjadi pada Jumat (31/7/2026) pukul 13.24 WIB. Titik api berada di RT 07/RW 02, Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek. Cuaca panas disertai tiupan angin menyebabkan api dengan cepat membakar lahan kering yang dipenuhi dedaunan dan rumput kering. Sekitar dua hektare lahan terbakar, namun berhasil dipadamkan oleh petugas gabungan.
Sementara itu, penanganan karhutla di Kota Lhokseumawe, Aceh, telah selesai. Berdasarkan laporan Jumat (31/7/2026), api yang membakar lahan di Gampong Alulim, Kecamatan Blang Mangat, telah berhasil dipadamkan. Peristiwa ini menghanguskan sekitar 10 hektare lahan tanpa menimbulkan korban jiwa.
Selain karhutla, BNPB juga mencatat bencana kekeringan di Provinsi Jawa Timur. Di Kabupaten Trenggalek, kekeringan berdampak pada 1.096 jiwa dari 390 kepala keluarga. BPBD Kabupaten Trenggalek telah mendistribusikan 28.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Di Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo, kekeringan berdampak pada 296 kepala keluarga atau 916 jiwa. BPBD setempat telah melakukan pendataan dan asesmen terhadap warga terdampak, serta menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 4.400 liter untuk kebutuhan sehari-hari.
Bencana cuaca ekstrem juga melanda Kota Binjai, Sumatera Utara, pada Kamis (30/7/2026). Hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang menyebabkan kerusakan material rumah warga. "Sebanyak tujuh kepala keluarga terdampak. Kerugian materil berdasarkan asesmen BPBD Kota Binjai menyebutkan sedikitnya tujuh rumah warga mengalami rusak sedang. Tim gabungan telah melakukan gotong royong pembersihan material dampak dari angin kencang," ujar Aam.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya hidrometeorologi kering selama musim kemarau, termasuk kekeringan dan karhutla. Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan, memastikan ketersediaan air bersih, serta mengoptimalkan langkah pengurangan risiko bencana.
"Masyarakat juga diimbau untuk mendukung upaya-upaya pengurangan risiko bencana di tengah ancaman karhutla selama musim kemarau. Menghadapi bahaya kekeringan, warga diharapkan bijak untuk memanfaatkan air dalam kebutuhan sehari-hari," imbaunya.
Artikel Terkait
BNPB Perkuat Penanganan Karhutla di Kalteng dengan Operasi Modifikasi Cuaca Siang-Malam
Krisis Air di Bogor Meluas, 140 Ribu Warga Terdampak Kekeringan
DPRD DKI Desak Antisipasi Kekeringan Sejak Dini
BMKG Prediksi Kekeringan Meluas di Jawa, Bali, dan Kalimantan Selatan, DPR Minta Pemerintah Bergerak Cepat