Sebuah notifikasi, angka yang terus bertambah, dan tombol kecil bernama like tidak semua candu hadir dalam bentuk rokok, alkohol, atau narkotika. Sebagian candu datang dalam bentuk yang jauh lebih sederhana, namun pengaruh psikologisnya sangat besar. Fitur kecil ini tidak memiliki suara maupun aroma, hanya membutuhkan satu sentuhan ringan dari ujung jari. Namun, jangan sekali-kali meremehkannya: tombol like telah mengubah cara pandang banyak orang dalam menilai harga diri mereka sendiri, perlahan tanpa disadari.
Pernahkah Anda mengunggah foto, tulisan, atau video, lalu beberapa menit kemudian langsung mengeceknya kembali? Membuka gawai berulang kali hanya untuk melihat apakah jumlah tanda suka sudah bertambah. Ketika angkanya naik, hati merasa lega dan ada kepuasan batin. Namun, ketika unggahan sepi respons, muncul pertanyaan yang mengusik kedamaian: apakah konten yang dibagikan tidak menarik, atau justru diri kita yang sudah tidak dianggap penting lagi? Pertanyaan sederhana itu menunjukkan pergeseran paradigma yang besar.
Aktivitas digital yang semula hanya bertujuan mencari perhatian kini bertransformasi menjadi kebutuhan psikologis akut akan pengakuan publik. Ketika pengakuan itu terus-menerus dikejar setiap hari, validasi dari orang lain perlahan menjadi candu yang mengikat. Dunia psikologi menjelaskan bahwa setiap kali seseorang menerima penghargaan atau pengakuan, otak melepaskan hormon dopamin zat neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan sistem penghargaan. Sensasi menyenangkan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi cukup kuat untuk mendorong seseorang mengulang perilaku yang sama.
Itulah sebabnya kita sering tanpa sadar terus-menerus membuka aplikasi media sosial, bukan karena ada informasi penting yang ditunggu, melainkan karena berharap ada tambahan satu atau dua like lagi. Yang dicari bukan lagi substansi informasi, melainkan perasaan bahwa diri diakui oleh lingkungan luar. Di titik ini, media sosial tidak lagi sekadar alat komunikasi universal. Ia telah menjadi ruang digital tempat banyak orang menitipkan harga diri dan eksistensi sosial mereka.
Psikolog Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Dahulu, ruang perbandingan itu hanya terjadi dalam lingkup terbatas, seperti keluarga, tetangga, atau teman sekolah. Kini, media sosial memperluas ruang lingkup tersebut melampaui batas geografis. Dalam satu hari, kita bisa membandingkan diri dengan ratusan bahkan ribuan orang di seluruh penjuru dunia. Masalahnya, kita tidak membandingkan kenyataan hidup yang riil secara objektif, melainkan membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh dinamika dengan etalase kehidupan orang lain yang telah dikurasi dengan indah.
Kita melihat foto liburan mewah di linimasa tanpa pernah melihat tumpukan utang yang mungkin menyertainya. Kita terpukau melihat senyum merekah di layar gawai tanpa mengetahui kesedihan mendalam yang disembunyikan di baliknya. Perbandingan yang tidak seimbang ini perlahan melahirkan rasa insecure atau ketidakamanan emosional yang tidak berdasar. Akibatnya, kita mulai merasa kurang menarik, kurang berhasil, kurang kaya, bahkan kurang bahagia dibandingkan orang lain bukan karena kualitas hidup kita benar-benar buruk, melainkan karena kita terus-menerus membandingkannya dengan versi terbaik dari potongan kehidupan orang lain.
Merambah ke Dunia Pendidikan
Sebagai seorang kepala sekolah, saya melihat gejala sosial ini sudah mulai merambah dan merusak dunia pendidikan. Sebagian peserta didik tampak jauh lebih gelisah ketika unggahan mereka sepi like daripada ketika nilai belajar mereka menurun. Ada santri atau siswa yang tega menghapus fotonya sendiri hanya karena respons publik tidak sesuai harapan. Ada pula remaja yang merasa minder dan menarik diri dari pergaulan hanya karena jumlah pengikutnya berada jauh di bawah teman-temannya. Di ruang-ruang kelas, saya menyaksikan sendiri bagaimana algoritma digital perlahan ikut membentuk rasa percaya diri generasi muda. Jika dibiarkan, hal ini akan merusak kesehatan mental anak didik dalam jangka panjang.
Fenomena ini tidak berhenti pada rasa insecure. Ia juga melahirkan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan akut untuk selalu mengikuti tren dan ketakutan tertinggal dari percakapan publik. Banyak orang membuka media sosial bukan karena benar-benar membutuhkan informasi, melainkan hanya karena takut dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman. Pada akhirnya, mereka terus terhubung dengan dunia luar, tetapi perlahan kehilangan hubungan yang spiritual dan sehat dengan dirinya sendiri.
Algoritma yang Manipulatif
Di sisi lain, industri teknologi media sosial hidup dan berkembang dari perhatian serta durasi aktif penggunanya. Dalam ekonomi digital yang kapitalistik, perhatian publik adalah komoditas bisnis yang sangat berharga. Semakin lama seseorang bertahan di sebuah platform, semakin besar keuntungan finansial yang diperoleh perusahaan teknologi raksasa. Karena alasan bisnis itulah, algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna, bukan untuk menjaga kesehatan psikologis mereka. Akibat desain sistem yang manipulatif, lahirlah budaya viral yang sering kali tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Tidak sedikit orang rela mempertontonkan konflik internal keluarga atau mempermalukan dirinya sendiri di depan kamera demi konten. Mereka membuat sensasi murahan, bahkan mengorbankan martabat kemanusiaan demi beberapa detik perhatian publik. Menjadi viral bukan lagi sekadar bonus, tetapi telah bergeser menjadi tujuan utama hidup.
Padahal, perhatian manusia adalah sesuatu yang rapuh, fana, dan mudah berubah. Hari ini seseorang dipuji setinggi langit, esok hari ia bisa langsung dihujat atau dilupakan. Jika harga diri dibangun di atas perhatian publik, ketenangan batin kita akan selalu dipermainkan oleh naik-turunnya algoritma digital. Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah mengingatkan bahwa krisis manusia modern bukan karena kekurangan informasi, melainkan hilangnya adab dalam memandang hakikat ilmu dan tujuan kehidupan. Dalam konteks media sosial, kita mungkin menghadapi bentuk baru dari krisis moral: kita tidak hanya mengalami banjir informasi, tetapi juga banjir tuntutan validasi dari sesama. Kita menjadi semakin sibuk mencari pengakuan dari luar, hingga lupa membangun penghargaan terhadap diri sendiri dari dalam.
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak ia dikenal di dunia, melainkan oleh kualitas iman, akhlak, dan amal salehnya di hadapan Allah. Nilai seorang manusia tidak akan bertambah karena ribuan orang menekan tombol like, dan tidak akan berkurang hanya karena unggahannya sepi perhatian. Kemuliaan manusia tidak diukur oleh algoritma digital, melainkan dinilai langsung oleh Allah. Rasulullah pun telah mengingatkan kita mengenai hakikat penilaian yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, tombol like hanyalah fitur teknologi biasa hasil rekayasa akal manusia. Ia tidak memiliki niat, tidak memiliki kehendak, dan tidak pernah bermaksud merendahkan martabat siapa pun. Namun, ketika manusia mulai menggantungkan rasa percaya diri pada fitur tersebut, ada bahaya besar yang mengancam jiwanya. Ia sedang menyerahkan sesuatu yang sangat berharga kepada sistem yang dirancang untuk membuatnya terus kecanduan. Barangkali, persoalan terbesar dari media sosial bukanlah banyaknya hoaks atau derasnya arus informasi, melainkan ketika manusia mulai memercayai bahwa harga dirinya dapat dihitung dengan angka digital.
Artikel Terkait
Pemerintah Targetkan 13 Taman Nasional Mandiri Finansial pada 2030
Pancasakti Run 2026: Berlari Sambil Menanam Pohon untuk Selamatkan Bumi
ESDM Sempat Tahan Ekspor Batu Bara Demi Amankan Pasokan Listrik PLN
Veda Ega Pratama Tembus Start Ketujuh Moto3 Belanda setelah Bangkit dari Q1