Bagi kebanyakan orang modern yang tinggal di kota dengan lampu menyala sepanjang malam, pagi sering kehilangan keagungannya. Kecuali saat pemadaman listrik, kita jarang merasakan malam dalam kegelapan yang sesungguhnya. Namun, bagi masyarakat zaman dahulu, terutama yang hidup di gurun luas, malam adalah saat bumi kehilangan batas-batasnya. Bagi mereka, kata "dhuha" bukan sekadar penanda waktu.
Hanya sedikit bahasa yang memiliki padanan tepat untuk kata itu. Terjemahan Alquran dalam bahasa Indonesia pun kesulitan menangkap maknanya. Kementerian Agama memilih menerjemahkan dengan posisi matahari, sementara terjemahan UII, tempat saya bersekolah, merayakan suasana hati: "Demi waktu dhuha yang ceria".
Para penerjemah bahasa Inggris juga berbeda pendapat. M. Pickthall menekankan penunjuk waktu dengan "By the morning hours". Yusuf Ali lebih menonjolkan cahaya: "By the glorious morning light" (Demi cahaya pagi yang gemilang). Serupa dengan itu, MAS Abdul Haleem menerjemahkan menjadi "By the morning brightness".
Ibnu Faris pada abad ke-11 menjelaskan bahwa akar kata "dhuha" adalah "dhaha", yang berarti cahaya yang menyingkap kegelapan dan membuat segala sesuatu tampak jelas.
Menariknya, dalam surah Ad-Dhuha, Allah yang merupakan sumber segala cahaya bersumpah dengan sinar pagi, mendahului ayat kedua yang menggambarkan malam dalam keadaan paling gelap dan paling sunyi. Harapan ditempatkan lebih dulu daripada keputusasaan. Selalu ada harapan bahwa cahaya suatu saat akan datang menghapus kegelapan, kegalauan, kejahatan, dan kegelisahan di hati manusia. Selalu ada harapan bahwa cahaya pagi yang gemilang itu kelak menerangi hati adik-adik di pesta-pesta itu.