Ratusan warga di Kampung Cikareumbi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menggelar tradisi saling lempar tomat yang sudah tidak layak jual. Bukan sekadar aksi saling lempar, ritual tahunan bernama Festival Perang Tomat ini menjadi daya tarik wisatawan yang ingin mengenal kearifan lokal masyarakat setempat.
Dalam perayaan yang dikenal sebagai hajat lembur itu, tomat-tomat busuk dan tidak layak konsumsi dipilih sebagai media utama. Suasana riuh langsung tercipta saat percikan merah memenuhi area perayaan, menandai dimulainya ritual saling lempar yang diikuti oleh ratusan peserta.
Sekilas, tradisi ini mengingatkan pada festival lempar tomat di Spanyol. Namun, makna di balik Perang Tomat di Lembang jauh lebih dalam. Bagi masyarakat setempat, ritual ini bukanlah sekadar hiburan.
"Ini merupakan simbol untuk membuang hal-hal buruk, energi negatif, dan kebusukan hati," ujar seorang tokoh masyarakat setempat. Lebih dari itu, tradisi ini juga menjadi harapan akan kehidupan yang lebih baik dan hasil pertanian yang melimpah di masa mendatang.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Tegaskan Dana AIIB USD17 Miliar Bukan Utang, Melainkan Skema Pembiayaan Proyek
Bareskrim Ungkap 15 Perusahaan Jadi Sponsor Sindikat Judi Online Internasional di Jakarta Barat
Guns N’ Roses Pastikan Konser di Jakarta 21 November, Hanya 25 Ribu Tiket Tersedia
ESDM Ganti Tabung LPG 3 Kg dengan CNG Mulai Juli 2026, Masyarakat Tak Perlu Beli Tabung Baru