Suara Kritis di Sumatra Berbalas Teror di Depan Pintu

- Kamis, 01 Januari 2026 | 14:15 WIB
Suara Kritis di Sumatra Berbalas Teror di Depan Pintu

Suara Kritis dan Ancaman yang Menyusul

Belakangan ini, ruang publik diramaikan bukan cuma oleh perdebatan soal penanganan bencana di Sumatra, tapi juga oleh gelombang teror yang dialami sejumlah figur. Mereka yang vokal mengkritik, mulai dari artis hingga aktivis, tiba-tiba harus berhadapan dengan ancaman yang mengerikan. Rentetan kejadian ini terjadi dalam waktu singkat, cuma tiga hari di penghujung tahun 2025.

Di sisi lain, pola ancamannya beragam. Ada yang lewat dunia maya, tak sedikit pula yang merambah ke ruang nyata. Semuanya punya satu benang merah: terjadi setelah mereka bersuara.

Yama Carlos dan Orderan Fiktif

Aktor Yama Carlos termasuk yang paling awal bersuara. Lewat sebuah video sindiran, dia menyoroti penanganan pasca-bencana. Tak lama, teror pun datang. Bukan langsung ke dia, tapi menyasar ibu seorang temannya. Ponsel sang ibu diretas, nomornya dicuri. Pelaku meminta dua belas konten Yama dihapus sebagai tebusan.

"Ibunya teman saya kena teror dan HP-nya di-hack. Nomornya diambil, lalu si pelaku ini menyuruh teman saya untuk menghapus 12 konten, kalau mau nomor ibunya kembali lagi. Video sudah saya take down dan langsung nomor ibunya dikembalikan saat itu juga," jelas Yama.

Masalahnya tak berhenti di situ. Yama kemudian kebanjiran orderan barang COD fiktif dengan nominal besar, yang mengatasnamakan istrinya. Kiriman itu terus berdatangan. Frustasi, dia akhirnya angkat bicara lebih tegas.

"Dan jika teror barang COD ini tidak berhenti juga menyasar saya dan istri saya, saya mohon izin kepada terduga pelaku untuk menindaklanjuti ini langsung ke ranah hukum," tegasnya.

Sherly Annavita dan Telur Busuk

Cerita serupa datang dari influencer Sherly Annavita. Setelah mengkritik penanganan bencana khususnya di Aceh, rumahnya jadi sasaran. Pagi itu, dia menemukan pecahan telur busuk berceceran di depan pintu. Mobilnya dicoret-coret dengan pilok merah. Lalu ada gulungan kertas misterius.


Halaman:

Komentar