Inflasi Inti AS Sentuh Level Tertinggi Sejak Oktober 2023, Tekan The Fed untuk Kembali Naikkan Suku Bunga

- Jumat, 26 Juni 2026 | 08:20 WIB
Inflasi Inti AS Sentuh Level Tertinggi Sejak Oktober 2023, Tekan The Fed untuk Kembali Naikkan Suku Bunga

Indikator inflasi yang menjadi acuan utama Federal Reserve (The Fed) mencatatkan lonjakan ke level tertinggi dalam tiga tahun pada Mei. Tekanan harga yang terus meningkat ini memperkuat spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan membuka kembali opsi untuk menaikkannya jika inflasi tak kunjung mereda.

Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 4,1 persen secara tahunan pada Mei, sesuai dengan ekspektasi pasar dan meningkat dari 3,8 persen pada bulan sebelumnya. Secara bulanan, inflasi tercatat naik 0,4 persen, sedikit lebih rendah 0,1 poin persentase dari perkiraan, namun masih sama dengan laju inflasi pada April.

Jika komponen energi dan pangan yang harganya fluktuatif dikeluarkan, inflasi inti atau core PCE justru menunjukkan tren yang lebih mengkhawatirkan. Angkanya naik menjadi 3,4 persen secara tahunan, meningkat dari 3,3 persen pada April. Secara bulanan, inflasi inti tercatat naik 0,3 persen, lebih tinggi dibandingkan 0,2 persen pada bulan sebelumnya. Ini merupakan level tertinggi sejak Oktober 2023.

Kenaikan harga energi memang menjadi pendorong utama inflasi secara keseluruhan. Namun, data menunjukkan bahwa meskipun energi dikeluarkan dari perhitungan, inflasi inti tetap merangkak naik. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan harga yang mulai meluas pada April masih berlanjut hingga Mei.

“Percepatan inflasi inti merupakan bagian terpenting dari rilis data ekonomi hari ini dan semakin meningkatkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga dalam 12 bulan ke depan,” ujar Kepala Ekonom AS di Fifth Third Commercial Bank, Bill Adams.

Menurut Adams, The Fed kemungkinan besar tidak akan puas dengan kondisi inflasi saat ini ketika menggelar rapat pada Juli. Meski demikian, ia memperkirakan bank sentral tetap akan mempertahankan suku bunga. “Mereka mungkin ingin menunggu untuk melihat apakah inflasi membaik setelah dampak tarif dan perang mulai mereda,” katanya.

Pekan lalu, para pejabat The Fed memberi isyarat bahwa mereka cenderung mempertahankan suku bunga sepanjang tahun ini. Namun, celah untuk kemungkinan kenaikan suku bunga mulai terbuka. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa bank sentral berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2 persen. Meskipun demikian, ia tidak memberikan panduan baru mengenai kebijakan moneter, prospek ekonomi, maupun arah suku bunga di luar pernyataan resmi.

Di internal The Fed sendiri, terdapat perbedaan pandangan. Sembilan anggota Komite memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tahun ini. Enam anggota bahkan memperkirakan sedikitnya dua kali kenaikan, sementara delapan anggota lainnya masih memperkirakan suku bunga tetap dipertahankan.

Ada kemungkinan data inflasi Mei ini sudah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi terkini. Setelah Presiden Donald Trump mencapai kesepakatan dengan Iran, harga minyak anjlok. Jika Selat Hormuz tetap terbuka, inflasi kemungkinan telah mencapai puncaknya, meskipun diperkirakan masih akan tetap tinggi sepanjang tahun.

Para pejabat The Fed memperkirakan inflasi tetap tinggi hingga akhir tahun sebelum kembali menurun tahun depan. Mereka memproyeksikan inflasi PCE utama akan mengakhiri tahun di angka 3,6 persen, sementara core PCE diproyeksikan berakhir di 3,3 persen.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, memperkirakan inflasi akan perlahan menurun dalam beberapa kuartal mendatang. Menurutnya, harga energi dan berbagai barang yang terdampak kenaikan biaya energi diperkirakan mulai stabil dan menurun pada paruh kedua tahun ini, asalkan gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz dapat segera teratasi. Namun, ia mengingatkan bahwa konflik di Timur Tengah masih menciptakan risiko yang signifikan dan sulit diprediksi bagi perekonomian global.

Williams juga menilai bahwa dampak tarif impor sebagian besar telah terjadi, sehingga tarif baru diperkirakan tidak akan memberikan tekanan inflasi tambahan yang besar. Selain itu, kenaikan harga sewa yang relatif moderat menunjukkan bahwa inflasi sektor perumahan kemungkinan akan terus melambat.

Sejumlah analis memberikan penilaian serupa setelah data PCE dirilis pada Kamis. Kepala Ekonom di RSM, Joseph Brusuelas, mengatakan bahwa dengan penurunan tajam harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sebesar 38,8 persen dari puncaknya di Mei, sangat mungkin inflasi telah mencapai puncaknya pada bulan tersebut. “Data inflasi Juni kemungkinan akan mencatat penurunan secara bulanan,” ujarnya.

Namun, Brusuelas menilai inflasi inti tidak akan turun dengan mudah. Ia menunjuk pada inflasi sektor jasa yang masih tinggi, kenaikan harga barang akibat tarif, tekanan harga dari pembangunan infrastruktur AI, serta tekanan harga yang diperkirakan muncul akibat meningkatnya belanja pertahanan. “Semua faktor tersebut akan menciptakan gambaran inflasi inti yang tetap menantang ke depan. Menentukan apakah suku bunga sebaiknya tetap dipertahankan atau justru dinaikkan menjadi keputusan yang cukup sulit,” kata dia.

Ekonom di Capital Economics, Thomas Ryan, juga menilai bahwa inflasi inti kemungkinan telah mencapai puncaknya pada Mei. Hal ini seiring memudarnya dampak tarif dan turunnya harga minyak yang diperkirakan menekan sejumlah komponen inflasi, termasuk tarif penerbangan. Meski demikian, ia memperkirakan inflasi inti baru akan mulai turun secara bertahap mulai Agustus.

Menurut Ryan, kondisi tersebut membuat The Fed hampir tidak memiliki pilihan selain memperketat kebijakan moneter di tengah kuatnya aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja. Ia bahkan memperkirakan akan terjadi tiga kali kenaikan suku bunga.

Saat ini, pasar memperkirakan terdapat peluang 50 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Deutsche Bank bahkan memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, yaitu pada September dan Desember, karena tekanan inflasi dinilai semakin meluas dan tidak hanya berasal dari faktor sementara seperti tarif dan harga energi.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.