Laga Inggris kontra Ghana di Piala Dunia 2026 di Boston, Amerika Serikat, diwarnai insiden kontroversial ketika bek Inggris Djed Spence menolak menjabat tangan gelandang Ghana Thomas Partey. Momen itu langsung menuai reaksi dari suporter Inggris yang turut mencemooh mantan pemain Arsenal tersebut saat pertandingan Grup L berlangsung, Selasa (23/6) waktu setempat.
Spence Abaikan Partey di Tengah Lapangan
Rekaman media sosial memperlihatkan Spence yang membela Tottenham Hotspur melewatkan jabat tangan dengan Partey saat perkenalan pemain sebelum laga dimulai. Bek kanan Inggris itu secara jelas menghindari kontak tangan dengan gelandang Ghana yang kini bermain untuk Villarreal di La Liga Spanyol.
Tak hanya Spence, suporter Inggris di stadion juga ikut menyoraki Partey setiap kali pemain berusia 33 tahun itu menyentuh bola di awal pertandingan. Atmosfer panas di Stadion Boston itu langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial, dengan banyak pengguna memuji sikap Spence yang dinilai menunjukkan prinsip.
Laga Inggris vs Ghana sendiri berakhir imbang 0-0. Hasil itu membuat kedua tim masih dalam persaingan ketat di Grup L bersama Kroasia dan Panama untuk memperebutkan tiket ke babak 32 besar.
Partey Terjerat Kasus Hukum di Inggris
Alasan di balik penolakan Spence dan cemoohan suporter tak lepas dari status hukum Partey. Mantan gelandang Arsenal itu tengah menghadapi tujuh tuduhan pemerkosaan dan dua tuduhan penyerangan seksual di Inggris. Partey telah membantah semua tuduhan yang berasal dari laporan empat perempuan berbeda antara tahun 2020 hingga 2022 tersebut.
Partey dijadwalkan menjalani sidang pada November 2026 atau setelahnya. Kasus ini sudah berlangsung lama dan menjadi sorotan publik sepak bola Inggris sejak pertama kali mencuat beberapa tahun lalu.
Kontroversi Partey sudah tercium sejak sebelum Piala Dunia 2026 dimulai. Kanada menolak memberikan visa kepada Partey untuk pertandingan pembuka Ghana melawan Panama di Toronto. Akibatnya, ia melewatkan laga yang dimenangkan Ghana 1-0 tersebut.
Perbandingan dengan Kasus Pemain Lain
Insiden ini memicu perdebatan lebih luas mengenai konsistensi FIFA dan negara tuan rumah dalam menangani pemain yang terjerat kasus hukum. Banyak pihak menyoroti perbedaan perlakuan antara Partey dengan pemain lain yang juga menghadapi tuduhan serupa.
Kapten Maroko Achraf Hakimi misalnya, juga menghadapi tuduhan pemerkosaan dan akan diadili. Namun ia tetap diizinkan bermain di Piala Dunia 2026 tanpa hambatan visa berarti. Hakimi juga telah membantah tuduhan tersebut.
Selain itu, warganet juga mempertanyakan mengapa Amerika Serikat memberikan visa kepada Partey dengan mudah, namun mempersulit proses visa bagi tim Iran yang baru mendapatkan izin masuk sepuluh hari sebelum pertandingan pertama mereka. Perbedaan ini menimbulkan spekulasi mengenai adanya standar ganda dalam kebijakan visa Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Kanada, dan Meksiko.
Partey sendiri sebelumnya mengaku siap bermain melawan mantan rekan setimnya di Arsenal, Declan Rice dan Bukayo Saka. "Saya merasa baik-baik saja dan siap bermain," kata Partey dikutip dari Al Jazeera. Ia siap tampil penuh meskipun isu hukum masih membayangi kariernya.
Dampak bagi Timnas Ghana di Piala Dunia
Insiden ini menjadi gangguan besar bagi skuad Ghana yang tengah berjuang keras di Grup L. Setelah mengejutkan Panama dengan kemenangan 1-0 di laga pertama, hasil imbang melawan Inggris membuat posisi Ghana masih terbuka untuk lolos ke babak 32 besar.
Pelatih Ghana harus mengelola situasi ini dengan hati-hati. Atmosfer negatif di sekitar Partey bisa mempengaruhi konsentrasi tim secara keseluruhan. Apalagi Ghana masih harus menghadapi Kroasia di laga penentu yang akan menentukan nasib mereka di turnamen.
Kehadiran Partey di lapangan memang penting bagi Ghana mengingat pengalamannya, namun kontroversi di luar lapangan terus menghantui setiap langkahnya. Banyak pengamat menilai FIFA perlu memberikan pedoman yang lebih jelas tentang partisipasi pemain yang sedang dalam proses hukum di turnamen sebesar Piala Dunia.
Yang jelas, insiden Spence dan Partey telah membuka kembali diskusi mengenai etika dalam sepak bola. Sejauh mana pemain dan suporter berhak menunjukkan sikap terhadap sesama pemain yang terjerat kasus hukum masih menjadi perdebatan yang takkan selesai dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Pertamina Siapkan Operasi Penuh Kilang Balikpapan, Ditargetkan Hemat Devisa Rp60 Triliun per Tahun
Trump: Iran Hapus Pungutan Kapal di Selat Hormuz, Dana Bekukan untuk Beli Pangan AS
Gubernur Jabar Koordinasikan Hadiah Rp250 Juta untuk Penangkapan Taufik Hidayat dengan Polda
Lonjakan Penumpang Kereta Api di Jakarta Tembus 171 Ribu Orang di Awal Libur Sekolah