Kadin: Indonesia Berpotensi Jadi Pemain Utama Industri Kendaraan Berbasis Perangkat Lunak Berkat Kekayaan Mineral dan Energi Terbarukan

- Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00 WIB
Kadin: Indonesia Berpotensi Jadi Pemain Utama Industri Kendaraan Berbasis Perangkat Lunak Berkat Kekayaan Mineral dan Energi Terbarukan

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pemain utama dalam industri kendaraan berbasis perangkat lunak atau software-defined vehicles (SDV). Pernyataan ini disampaikan di tengah gelaran 17th Annual Meeting of the New Champions 2026 'Summer Davos' yang diselenggarakan oleh World Economic Forum (WEF) di Dalian, China, pada Selasa (23/06/2026).

Menurut Anindya, posisi tersebut didukung oleh kekayaan sumber daya alam nasional. Indonesia, kata dia, saat ini merupakan produsen nikel terbesar di dunia dan masuk dalam jajaran lima besar global untuk komoditas tembaga, seng, bauksit, serta timah. Hampir seluruh mineral kritis yang dibutuhkan untuk pengembangan kendaraan listrik dan SDV tersedia di dalam negeri.

“Kemampuan Indonesia untuk mengolah mineral-mineral kritis tersebut akan sangat membantu perkembangan software-defined vehicles,” ujar Anindya.

Selain cadangan mineral, potensi energi terbarukan menjadi keunggulan lain yang dinilai memperkuat daya saing Indonesia. Kapasitas energi terpasang nasional saat ini mencapai sekitar 100 gigawatt, yang masih didominasi oleh energi konvensional. Namun, ke depan, sekitar 75 persen dari tambahan kapasitas pembangkit baru ditargetkan berasal dari sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, panas bumi, dan hidro. Anindya menilai transisi energi ini membuka peluang besar untuk mendorong transformasi industri nasional menuju sektor yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

Indonesia juga memiliki modal besar dari sisi sumber daya manusia. Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 285 juta jiwa dan pertumbuhan sekitar lima juta kelahiran setiap tahun, Anindya menekankan bahwa industrialisasi menjadi kebutuhan mendesak untuk menciptakan lapangan kerja baru.

“Kita harus menciptakan lapangan kerja bagi mereka. Karena itu industrialisasi menjadi sangat penting,” kata Anin, sapaan akrabnya.

Meski demikian, Anindya melihat peluang terbesar penerapan SDV di Indonesia tidak terletak pada kendaraan penumpang, sistem hiburan, atau teknologi bantuan mengemudi canggih. Justru, potensi terbesar berada di sektor manajemen armada dan logistik. Ia mengungkapkan, Indonesia memiliki sekitar 6,5 juta truk, kendaraan pertambangan, dan kendaraan logistik, serta sekitar 300 ribu bus yang membutuhkan sistem pengelolaan yang lebih efisien.

“Ini perlu dikelola dengan baik agar Indonesia bisa naik ke level berikutnya sekaligus mendorong industrialisasi yang lebih kuat,” ujar Anin.

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia masih menghadapi tantangan biaya logistik yang relatif tinggi. Anindya meyakini, pemanfaatan teknologi SDV dan kecerdasan buatan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang dan jasa.

Anindya juga menegaskan bahwa transformasi menuju kendaraan cerdas tidak berarti perangkat keras menjadi tidak relevan. Sebaliknya, kebutuhan terhadap material maju justru semakin meningkat.

“Ketergantungan terhadap material bukan berkurang, tetapi semakin intensif. Material baterai harus lebih efisien, lebih padat energi, dan tetap stabil secara termal. Untuk itu dibutuhkan nikel, lebih banyak tembaga untuk menghantarkan listrik, serta aluminium ringan yang berasal dari bauksit,” kata Anin.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar