Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi diteriaki oleh demonstran saat menghadiri acara peringatan Perang Dunia II, Selasa (23/6) waktu setempat. Kemarahan para pengunjuk rasa itu dipicu oleh perubahan kebijakan pemerintah Jepang yang dinilai mulai meninggalkan sikap pasifis yang telah dipegang teguh selama beberapa dekade terakhir.
Sebagai sekutu dekat Amerika Serikat, Jepang pada April lalu melonggarkan aturan tentang ekspor senjata mematikan. Takaichi sendiri telah lama dikenal sebagai tokoh keamanan garis keras dan pernah menyatakan keinginannya untuk merevisi Konstitusi Jepang. Tahun lalu, ia juga memicu kemarahan China lewat komentarnya tentang Taiwan.
Aksi protes terjadi ketika Takaichi menghadiri peringatan 81 tahun berakhirnya Pertempuran Okinawa yang brutal pada 1945, yang menewaskan sekitar 200.000 warga Jepang. Sepanjang pidato sang perdana menteri, sekelompok demonstran yang vokal terus-menerus meneriakinya.
“Tidak untuk Perang!” dan “Lindungi Pasal 9!” terdengar dari kerumunan. Teriakan itu merujuk pada klausul dalam Konstitusi Jepang yang secara eksplisit menolak perang.
“Setiap kali saya merenungkan penyesalan semua orang yang gugur dalam perang dan duka cita keluarga yang ditinggalkan, hari saya dipenuhi kesedihan yang mendalam,” kata Takaichi dalam pidatonya.
“Di bawah janji teguh kita untuk tidak pernah lagi mengulangi kehancuran perang, Jepang telah secara teguh melangkah maju di jalur ini sebagai bangsa yang menempatkan nilai tertinggi pada perdamaian,” ujar PM perempuan itu.
Artikel Terkait
Pilot F-15 AS Laporkan Formasi Drone Iran Mirip Ubur-ubur Sebelum Ditembak Jatuh, Intelijen Terbelah soal Keakuratan Kesaksian
Kejaksaan Agung Tolak Status Justice Collaborator Mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional dalam Kasus Korupsi MBG
Prabowo Bercanda Soal Teddy Disambut Lebih Meriah Saat Buka PENAS XVII di Gorontalo
Mantan Wamendesa Nilai Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr. Tifa Sah Secara Hukum