PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) memperkuat mitigasi risiko bisnis di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik yang membayangi sektor manufaktur. Produsen ban yang telah berdiri selama 75 tahun ini menyadari bahwa kinerja operasional sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan harga energi dunia.
Presiden Direktur PT Gajah Tunggal Tbk, Suryopratomo, menegaskan bahwa perseroan terus beradaptasi untuk menjaga stabilitas operasional. Langkah utama yang ditempuh adalah memperketat manajemen biaya di seluruh lini perusahaan.
“Kami terus meningkatkan efisiensi. Industri ini kan industri yang sangat peka terhadap nilai tukar dan kemudian harga energi,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Pria yang akrab disapa Tommy ini menekankan bahwa strategi efisiensi menjadi krusial mengingat karakteristik industri ban yang padat karya dan beroperasi penuh selama 24 jam dengan sistem tiga sif. Dengan jumlah karyawan mencapai 17.000 orang, kenaikan biaya tenaga kerja dan energi menjadi beban yang sangat berpengaruh terhadap operasional perusahaan.
Untuk mengatasi tekanan tersebut, Gajah Tunggal tidak memilih jalan pintas melalui pengurangan tenaga kerja. Sebaliknya, perseroan justru fokus pada penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui Politeknik Gajah Tunggal yang mereka kelola sendiri. Politeknik tersebut menjadi kunci bagi perseroan untuk memastikan regenerasi tenaga kerja terus berjalan. Setiap tahun, ribuan calon sarjana melamar untuk dididik, dan lulusannya langsung diserap ke dalam grup perusahaan. Langkah ini menegaskan bahwa bagi Gajah Tunggal, tenaga kerja adalah aset inti yang harus dikelola dengan pendekatan jangka panjang.
Di sisi lain, perseroan juga terus memperkuat inovasi internal melalui tim Research and Development (R&D). Tim ini bertugas mencari celah-celah inovasi baru yang dapat menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas.
“Kami punya tim Research and Development yang baik dan ini salah satu hal lain yang kemudian bisa dipergunakan untuk meningkatkan efisiensi,” katanya.
Dalam menghadapi kompleksitas ekonomi, Tommy juga menekankan pentingnya sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan. Dia meyakini bahwa kolaborasi antara industri dan media merupakan elemen vital dalam menghadapi tantangan bersama.
“Karena saya kira kerja sama antara industri dan media menjadi sangat penting apalagi dalam situasi yang penuh tantangan seperti sekarang,” ujarnya.
Melalui perpaduan antara manajemen efisiensi yang ketat, pengembangan SDM yang berkelanjutan, serta kolaborasi yang erat dengan media, Gajah Tunggal berupaya mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar di industri ban.
Artikel Terkait
Polisi Malaysia Selidiki Anggotanya yang Diduga Hina Warga China ‘Bau’ di Video Viral
Insinyur Chip Kini Jadi Primadona Baru di Pasar Kerja dan Perjodohan Korea Selatan
Pemerintah Belum Pastikan Lokasi Upacara HUT ke-81 RI di Jakarta dan IKN
Rubio Tolak Rencana Iran Tarik Biaya Tol Kapal di Selat Hormuz