Biaya logistik Indonesia yang masih berada di kisaran 14 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dinilai menjadi salah satu hambatan utama dalam meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Angka tersebut dinilai masih terlalu tinggi, terutama di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang kian pesat.
Pelaku industri jasa kurir pun angkat bicara. CEO PT SiCepat Ekspres Indonesia, Barry Lim, menyatakan dukungannya terhadap upaya peningkatan efisiensi biaya logistik nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam forum Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026. Menurut Barry, kolaborasi antarpelaku usaha logistik menjadi kunci untuk menjawab berbagai tantangan distribusi barang di Indonesia, termasuk tingginya biaya logistik dan ketimpangan biaya pengiriman antarwilayah.
“Konsolidasi industri logistik bukan pilihan, melainkan keniscayaan. SiCepat siap menjadi bagian aktif dari transformasi ini,” ujar Barry, Rabu (24/6/2026).
Ia menilai efisiensi logistik menjadi semakin penting seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital Indonesia. Saat ini, disparitas ongkos kirim antara wilayah Jawa dan luar Jawa masih mencapai 20 hingga 40 persen. Padahal, sektor e-commerce menyumbang sekitar 77 persen dari total ekonomi digital nasional dan melibatkan lebih dari 30 juta UMKM, merek, serta merchant yang bergantung pada layanan distribusi barang.
Dalam forum tersebut, SiCepat menjadi salah satu peserta dari klaster konsolidator logistik nasional. Para peserta menandatangani deklarasi yang mencakup komitmen kolaborasi operasional, pemanfaatan infrastruktur dan teknologi bersama, serta penguatan daya saing pelaku logistik domestik.
Barry mengatakan, konsolidasi dan kerja sama antarpelaku industri menjadi langkah penting untuk menciptakan jaringan distribusi yang lebih efisien dan menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia. Saat ini, industri pos dan kurir memproses lebih dari 25 juta paket setiap hari. Namun, lebih dari 60 persen distribusi barang nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kondisi ini membuat efisiensi logistik dinilai penting untuk mendukung pemerataan pertumbuhan ekonomi digital.
Sebagai bagian dari partisipasi dalam acara tersebut, SiCepat juga menampilkan armada kendaraan listrik dan memperkenalkan program Sales & Drop Point (S&DP). Program tersebut ditujukan untuk membuka peluang bagi pelaku usaha lokal bergabung sebagai titik pengiriman resmi guna memperluas jaringan distribusi.
Melalui berbagai langkah ini, perusahaan berharap dapat ikut mendukung penguatan ekosistem logistik nasional sekaligus meningkatkan konektivitas pengiriman barang hingga ke berbagai daerah di Indonesia.
“Berbagi infrastruktur, berkolaborasi dalam teknologi, dan bersama-sama membangun jaringan pengiriman yang efisien hingga ke seluruh pelosok Indonesia. Ini komitmen kami kepada bangsa, bukan hanya kepada bisnis,” kata Barry.
Artikel Terkait
Penjualan Motor Listrik ALVA Tumbuh 52 Persen pada 2025, Capai 4.500 Unit
Perwira Polisi Alami Patah Tulang Lutut saat Amankan Aksi Ricuh di Depan DPR
Kadin: Indonesia Berpotensi Jadi Pemain Utama Industri Kendaraan Berbasis Perangkat Lunak Berkat Kekayaan Mineral dan Energi Terbarukan
Enam Negara Pastikan Tiket ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Lima Tim Resmi Tersingkir