Warga Kuala Kampar Sambut Sekat Kanal, Minta Perawatan Berkelanjutan

- Kamis, 18 Juni 2026 | 22:15 WIB
Warga Kuala Kampar Sambut Sekat Kanal, Minta Perawatan Berkelanjutan

Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, meninjau langsung pembangunan sekat kanal di Pulau Mendol, Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, sebuah infrastruktur pengendali air yang kehadirannya disambut antusias oleh warga setempat yang selama ini merasa terpinggirkan.

Salah seorang warga Desa Sungai Perak, Erwan (49), mengaku lega karena wilayahnya akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Menurutnya, Kuala Kampar kerap tertinggal dibandingkan daerah lain di Provinsi Riau, meskipun menjadi salah satu kawasan yang membuka jalan bagi perkembangan wilayah sekitarnya.

"Kalau kami itu sebenarnya ada pembangunan ini diperhatikan oleh pemerintah ini kami bertambah senang, karena tempat kami ini tertinggal. Coba kecamatan yang tertua, mulai dari Pulau Lawan buka, sini dulu buka, baru ada sana (Pangkalan Kerinci), baru ada Kerinci. Kalau nggak ada sini, nggak ada sana tuh. Tapi di sini yang paling tertinggal," kata Erwan saat ditemui, Kamis (18/6/2026).

Erwan menuturkan, pembangunan sekat kanal menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat yang bermukim di kawasan gambut. Ia mengaku kebun miliknya beberapa kali hangus akibat kebakaran lahan yang terjadi berulang kali.

"Saya bikin kebun saya itu, empat kali nanamnya tuh. Nanam tahun ini, hangus. Tahun depan nanam lagi. Tahun depan hangus lagi, tahun depannya lagi nanam. Karena awak ini kuat, semangat itu kuat, nanam terus, akhirnya dapat juga berbuah," ujarnya.

Meski menyambut baik proyek tersebut, Erwan mengingatkan agar pembangunan sekat kanal tidak berhenti pada tahap seremonial belaka. Ia meminta pemerintah memastikan adanya perawatan dan pengawasan setelah pembangunan selesai agar fungsinya tetap optimal dalam jangka panjang.

"Bagus juga ada bangunan pintu air gini, tapi dilaksanakan bangunannya. Nanti setiap ada pula yang penjaganya kan, perawatan," tuturnya.

"Ini kadang-kadang sudah dibangun, biarin. Nggak ada perawatan, sama dengan tidak. Sama cuma menyemangatkan kasih angin segar saja dengan masyarakat, kan gitu," lanjut Erwan.

Menurut Erwan, masyarakat Kuala Kampar siap mendukung program pemerintah. Sehari sebelum kunjungan menteri, warga bergotong royong membantu proses pembangunan sekat kanal tanpa mengharapkan imbalan.

"Kami paling suka kalau ada bangunan, kami support. Tengok kami, tahan kami satu hari semalam tuh tak bekerja kegiatan kami, kami satu masyarakat sini bantu semua. Tolong, bantu semua, tak ada biaya, kami mengeluarkan," katanya.

Ia menjelaskan, sekat kanal berfungsi sebagai sistem pengatur tata air yang sangat penting bagi produktivitas kebun kelapa dan karet milik warga. Selama ini, kanal-kanal yang terbuka tanpa sekat membuat air di kubah gambut mengalir deras ke laut. Akibatnya, lahan menjadi kering saat musim kemarau dan tergenang ketika musim hujan tiba.

Dengan adanya sekat kanal, tinggi muka air tanah dapat dipertahankan sehingga kelembapan lahan tetap terjaga dan risiko kebakaran dapat ditekan secara signifikan.

"Di sini kalau musim hujan tergenang tuh, terendam, banjir. Jadi kalau ada kanal itu kan nanti kan dibersihkan pemerintah, jadi baguslah daerah kami ini, kelapa-kelapa jadi bagus," ucapnya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan warga lainnya, Kasogi. Ia berharap pembangunan sekat kanal tidak berhenti begitu kunjungan pejabat berakhir, sebuah pola yang kerap terjadi di daerahnya.

"Tolonglah ke depan, macam kanal ini Pak, kalau bapak-bapak tidak hadir, Pak Menteri tidak hadir, mungkin kegiatan ini akan stop (berhenti). Ketika bapak pulang, hari ini akan stop. Inilah kenyataan yang ada," ujar Kasogi.

Ia mendorong agar pembangunan sekat kanal diperluas karena masih banyak parit di Kuala Kampar yang membutuhkan penanganan serupa. Tanpa itu, lahan gambut rentan mengalami kekeringan parah.

Di sisi lain, Kasogi juga menyoroti nasib Masyarakat Peduli Api (MPA) di wilayahnya. Menurutnya, kelompok relawan tersebut selama ini belum mendapatkan dukungan yang memadai, baik dari sisi anggaran maupun peralatan pemadam kebakaran.

"Karena satu, kita alat tidak ada, Pak. Terutama alat pemadam kebakaran. Ketika ada kebakaran lahan, yang kita gunakan hanya tangki racun (semprotan hama), Pak. Kita menggunakan tangki racun untuk memadamkan api. Nah ini cukup tidak layak," katanya.

Kasogi menjelaskan, kondisi gambut di Kuala Kampar sangat rentan terbakar. Jika hujan tidak turun selama satu bulan, permukaan air akan surut drastis dan lahan menjadi sangat kering, meningkatkan risiko kebakaran yang sulit dikendalikan.

"Harapan kami, Pak, kalau dapat Masyarakat Peduli Api ini tolonglah dibantu. Karena ketika MPA ini mendapat sarana dan prasarana serta anggaran yang cukup, saya rasa masalah kebakaran tidak menjadi permasalahan yang besar, Pak," pungkasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar