BNI Catat Laba Bersih Rp10,8 Triliun pada Semester I-2026, Kredit Tumbuh 24,4 Persen

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:40 WIB
BNI Catat Laba Bersih Rp10,8 Triliun pada Semester I-2026, Kredit Tumbuh 24,4 Persen

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan laba bersih Rp10,8 triliun pada semester I-2026. Capaian ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih dan pendapatan berbasis komisi yang masing-masing naik 14,2 persen secara tahunan, menjadi Rp22,3 triliun dan Rp9 triliun.

Pre-provision operating profit (PPOP) perseroan mencapai Rp18,5 triliun, tertinggi sepanjang sejarah untuk periode semester pertama. Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital.

“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama dalam keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).

Menurut Putrama, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.

Kredit dan Pendanaan

Hingga akhir Juni 2026, kredit BNI tumbuh 24,4 persen secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi, mulai dari segmen korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer. Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko debitur.

Dari sisi pendanaan, current account saving account (CASA) tumbuh 11,2 persen secara tahunan sehingga rasionya terjaga di level 65,4 persen. Kondisi ini turut meningkatkan efisiensi biaya dana, tercermin dari cost of fund dana pihak ketiga yang membaik menjadi 2,56 persen, dari sebelumnya 2,78 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Kualitas Aset dan Digital

BNI berhasil menjaga profil risiko tetap sehat. Rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 8,1 persen dari sebelumnya 11 persen, sementara rasio non performing loan (NPL) berada di level 1,9 persen. Perseroan juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif untuk memperkuat ketahanan neraca.

Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, mengatakan kualitas aset yang terjaga merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten di seluruh proses bisnis, mulai dari penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit.

Di sisi digital, jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta hingga akhir Juni 2026, dengan volume transaksi tumbuh 110 persen secara tahunan. Sementara itu, pada segmen wholesale, pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu, dengan volume transaksi meningkat 17 persen secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.

BNI juga memperkuat produktivitas jaringan melalui implementasi BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) yang telah diterapkan di seluruh wilayah operasional. Program tersebut memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan melanjutkan strategi penguatan struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin. Perseroan juga akan melanjutkan transformasi BRAVE dan digital untuk meningkatkan produktivitas serta menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags