BI Catat Uang Primer Tumbuh 14,2 Persen pada Mei 2026, Didorong Giro Bank dan Uang Kartal

- Senin, 08 Juni 2026 | 11:35 WIB
BI Catat Uang Primer Tumbuh 14,2 Persen pada Mei 2026, Didorong Giro Bank dan Uang Kartal

Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah uang primer yang telah disesuaikan atau adjusted (M0) pada Mei 2026 mencapai Rp2.214,6 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 14,2 persen secara tahunan (year on year/yoy), meskipun sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 14,3 persen.

Perlambatan tipis tersebut tidak lepas dari faktor pendorong utama yang masih menunjukkan tren positif. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan M0 adjusted didorong oleh meningkatnya giro bank umum di Bank Indonesia yang telah disesuaikan, dengan laju pertumbuhan mencapai 17,4 persen (yoy). Selain itu, jumlah uang kartal yang beredar juga tercatat tumbuh 15,8 persen (yoy).

"Perkembangan ini didorong oleh meningkatnya pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,4 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8 persen (yoy)," kata Ramdan dalam keterangan resmi, Senin (8/6/2026).

Dalam perhitungannya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak dari kebijakan pemberian insentif likuiditas atau pengendalian moneter yang disesuaikan. Instrumen ini menjadi salah satu variabel penting dalam mengukur perkembangan uang primer secara lebih akurat.

Sebagai informasi, uang primer adjusted merupakan indikator yang menggambarkan perkembangan uang primer setelah mengisolasi dampak penurunan giro bank di BI akibat insentif likuiditas. Definisi teknisnya, uang primer adjusted adalah uang primer yang disesuaikan dengan nominal giro bank berdasarkan ketentuan GWM (reserve ratio) yang dikalikan dengan dana pihak ketiga (DPK) pada setiap periode.

Sementara itu, sejak publikasi Januari 2025, BI telah melakukan penyesuaian metode perhitungan uang primer adjusted serta merevisi data sejak Januari 2020. Langkah ini diambil untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai perkembangan uang primer dan pengaruh kebijakan likuiditas yang dijalankan oleh bank sentral.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar