Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Angka ini menunjukkan optimisme meskipun terdapat sejumlah tantangan global yang membayangi.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa laju ekonomi diperkirakan meningkat dari 5,39 persen pada triwulan IV 2025 menjadi 5,61 persen pada triwulan I 2026. Kenaikan ini, menurut dia, utamanya ditopang oleh permintaan domestik yang solid.
"Konsumsi rumah tangga meningkat didorong kenaikan mobilitas masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan dampak positif berbagai stimulus Pemerintah," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (20/5/2026).
Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga mencatat pertumbuhan tinggi. Hal ini dipicu oleh belanja program prioritas nasional, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG), serta peningkatan belanja pegawai melalui gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR). Sektor investasi, khususnya investasi bangunan, turut meningkat seiring dengan pelaksanaan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN).
Namun, tekanan datang dari sisi eksternal. Perry menjelaskan bahwa ekspor Indonesia mengalami penurunan akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Meskipun demikian, prospek ke depan dinilai tetap positif.
"Ke depan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan tetap baik ditopang oleh optimalisasi belanja Pemerintah yang bersinergi dengan bauran kebijakan BI, termasuk pelonggaran kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran untuk turut mendukung kegiatan ekonomi digital dan keuangan inklusif," tutupnya.
Artikel Terkait
Perusahaan China Incar Peluang Besar di Balik Target PLTS 100 GW Indonesia, Soroti Kebutuhan Teknologi Penyimpanan Energi
Presiden Prabowo Resmikan RSUD Lampung Barat dan Buka Munas Hipmi 2026 di Lampung
Investor China dan Hong Kong Dilarang Ikut IPO SpaceX, Alihkan Buruan ke Saham Terkait
Ekonom: RI Tak Akan Ulangi Krisis 1998, Tantangan Kini Bergeser ke Daya Beli Kelas Menengah