Sebanyak 39 pesawat militer Amerika Serikat dilaporkan hancur atau rusak selama konflik bersenjata melawan Iran, termasuk di antaranya jet tempur siluman F-35A Lightning II yang disebut tertembak saat berada di wilayah udara Iran. Data tersebut diungkap oleh anggota Senat AS dari Partai Demokrat, Ed Case, dalam sebuah sidang komite yang berlangsung pada Selasa (12/5/2026).
Dalam persidangan tersebut, Case merujuk pada laporan dari publikasi pertahanan AS, The War Zone, yang memuat rincian kerugian besar yang dialami militer AS selama hampir 40 hari pertempuran. Menurut laporan itu, periode kerugian terjadi antara 28 Februari hingga 7 April, dengan rincian 39 pesawat hancur total dan sepuluh unit lainnya mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Selain F-35A, pesawat peringatan dini Boeing E-3 Sentry juga disebut turut hancur dalam insiden tersebut.
“Kita kehilangan sekitar 39 pesawat, menurut sebuah laporan di The War Zone, dan itu laporan lama yang hampir berusia sebulan,” kata Case kepada Jay Hurst, kepala anggaran Departemen Pertahanan AS (Pentagon).
Pernyataan itu kemudian diikuti pertanyaan kritis dari Case, apakah Pentagon telah menyiapkan anggaran untuk memperbaiki atau mengganti seluruh pesawat yang rusak dan hancur tersebut. Menanggapi hal itu, Hurst mengakui bahwa biaya yang harus disiapkan sangat besar, namun ia belum dapat memastikan angka pastinya. Ia menjelaskan bahwa proses penghitungan kerusakan pesawat sangat kompleks dan membutuhkan diagnosis menyeluruh terlebih dahulu.
“Ada biaya untuk itu, tapi saya ingin beri tahu Anda secara tertulis dan biaya spesifiknya, karena, seperti yang Anda bayangkan, perbaikan pesawat adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dihitung,” ujar Hurst.
Ia menambahkan bahwa setiap pesawat harus menjalani pemeriksaan teknis secara menyeluruh sebelum estimasi biaya perbaikan dapat ditentukan. Sementara itu, laporan The War Zone juga mengungkap bahwa Angkatan Udara AS telah melakukan hampir 13.000 penerbangan selama perang melawan Iran. Intensitas operasi udara yang sangat tinggi itu disebut menjadi salah satu faktor utama di balik tingginya angka kerugian yang dialami militer AS.
Artikel Terkait
Pengendara Motor Tewas dalam Kecelakaan di Traffic Light Pesing, Polisi Masih Selidiki Penyebab
DBS Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Turun Jadi 5,1 Persen karena Tekanan Global
Menlu Iran Tuding UEA Jadi Mitra Aktif Agresi AS-Israel, Abu Dhabi Bantah Pertemuan Rahasia dengan Netanyahu
Mantan Wakil Kepala BSSN Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan ke MK, Nilai Pasal KLB dan Ancaman Pidana Multitafsir