Pertumbuhan ekonomi Malaysia diprediksi mengalami perlambatan pada kuartal pertama tahun 2026, setelah sebelumnya mencatatkan ekspansi tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan hasil jajak pendapat yang dilakukan Reuters terhadap sejumlah ekonom, produk domestik bruto (PDB) Negeri Jiran diperkirakan tumbuh sebesar 5,3 persen pada periode Januari hingga Maret mendatang.
Angka tersebut menurun dibandingkan capaian pada kuartal IV-2025 yang mencapai 6,3 persen. Para analis menilai, konsumsi rumah tangga dan kinerja ekspor yang solid masih menjadi penopang utama perekonomian Malaysia. Namun, sejumlah faktor mulai membayangi prospek pertumbuhan ke depan.
Pada awal tahun ini, ekspansi ekonomi masih didorong oleh kinerja positif di sektor jasa, manufaktur, konstruksi, dan pertanian. Sementara itu, ketidakpastian global akibat konflik yang berlangsung di Iran mulai mendorong kenaikan inflasi dan membebani permintaan domestik. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pemerintah dan bank sentral.
Di sisi lain, sektor pertambangan diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 1,1 persen pada kuartal lalu. Penurunan ini terutama disebabkan oleh merosotnya produksi minyak mentah dan gas alam.
Secara keseluruhan, perekonomian Malaysia diperkirakan tumbuh 4,5 persen sepanjang tahun ini. Angka tersebut sejalan dengan target yang ditetapkan oleh Bank Negara Malaysia. Untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan, bank sentral telah mempertahankan suku bunga acuan di level 2,75 persen untuk kelima kalinya secara berturut-turut.
Artikel Terkait
AS Serang Gudang Rudal Iran di Pesisir Selatan, Garda Revolusi Balas Serang Instalasi Militer AS
Pre-order GTA VI Dibuka, Harga Termurah Rp 1,19 Juta untuk PlayStation 5 dan Xbox Series X|S
Polisi Bongkar Praktik Judi Berkedok Timezone di Jakarta, Omzet Capai Rp2,1 Miliar per Bulan
Bupati Gowa Minta Pansus Hak Angket Tak Masuk ke Ranah Pribadi