Saham WBSA Kembali ARB Usai BEI Masuk ke Kategori Kepemilikan Terkonsentrasi

- Senin, 11 Mei 2026 | 10:50 WIB
Saham WBSA Kembali ARB Usai BEI Masuk ke Kategori Kepemilikan Terkonsentrasi

Saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) kembali menyentuh batas bawah otomatis atau auto reject bawah (ARB) pada sesi pertama perdagangan Senin (11/5/2026), setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan saham emiten logistik tersebut sebagai saham dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

Harga saham WBSA ambles Rp130 atau 10 persen ke level Rp1.175 per lembar. Penurunan ini merupakan yang ketiga kalinya secara berturut-turut, setelah sebelumnya saham tersebut sempat menyentuh batas atas otomatis (ARA) dalam beberapa sesi beruntun.

Keputusan BEI untuk memasukkan WBSA ke dalam kategori HSC didasari hasil penelusuran struktur kepemilikan saham pada 7 Mei 2026. Hasilnya, kepemilikan saham WBSA yang dikuasai sejumlah pemegang saham tertentu secara agregat mencapai 95,82 persen.

Direktur BEI, Kristian Manullang, menegaskan bahwa pengumuman tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan maupun ketentuan yang berlaku di pasar modal.

Saat ini, saham WBSA berada di papan pemantauan khusus sehingga diperdagangkan dengan skema full-call auction (FCA). Hingga pukul 10.00 WIB, sebanyak 54 ribu lot saham telah diperjualbelikan dengan nilai transaksi mencapai Rp6,3 miliar.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), PT Tiga Beruang Kalifornia selaku pemegang saham pengendali menguasai 79,01 persen saham WBSA. Selain itu, tiga entitas asal Singapura tercatat sebagai pemegang saham, yaitu Caerdydd Investment (private equity) sebesar 4,87 persen, Lion Trust 4,11 persen, dan Zico Trust 3,74 persen. Total kepemilikan keempat entitas tersebut mencapai 91,73 persen dari seluruh saham yang beredar.

Meskipun saham WBSA sempat melesat hampir 600 persen sejak initial public offering (IPO) pada 10 April lalu, tekanan jual kini begitu deras. Investor yang ingin keluar harus mengantre dengan lebih dari 440 ribu lot saham yang dipasang pada harga ARB. Sementara itu, porsi saham yang beredar di publik atau free float tercatat masih bertahan di level 20,75 persen, sedikit di atas porsi awal sebesar 20,15 persen.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar