IHSG Tertekan Sentimen Negatif, Rencana Kenaikan Royalti Tambang Picu Aksi Jual

- Senin, 11 Mei 2026 | 07:20 WIB
IHSG Tertekan Sentimen Negatif, Rencana Kenaikan Royalti Tambang Picu Aksi Jual

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah berada dalam tekanan akibat sentimen negatif yang datang dari dalam dan luar negeri, dengan salah satu pemicu utamanya adalah rencana kenaikan tarif royalti tambang yang dijadwalkan berlaku pada Juni 2026. Pasar langsung merespons negatif usulan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut, yang memicu aksi jual pada saham-saham sektor tambang dan energi. Padahal, sepanjang pekan lalu IHSG sempat mencatat kenaikan tipis sebesar 0,18 persen, namun gain tersebut tergerus pada akhir pekan setelah kabar kebijakan itu merebak.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menilai bahwa perubahan tarif royalti untuk komoditas seperti tembaga, timah, nikel, emas, dan perak bukanlah sekadar wacana, mengingat pemerintah telah menetapkan batas waktu implementasi pada pertengahan tahun depan. Menurutnya, tekanan terhadap sektor mineral dan batu bara tidak berhenti pada kenaikan royalti semata.

"Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan, turut menambah ketidakpastian," katanya pada Senin (11/5/2026).

Sementara itu, dari sisi global, agenda rebalancing MSCI yang akan berlangsung pada 12 Mei berpotensi memicu rotasi portofolio dan meningkatkan volatilitas jangka pendek, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar. Dengan investor asing yang masih mencatatkan posisi net sell dan belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah, penguatan IHSG ke depan sangat bergantung pada kekuatan aliran dana domestik.

Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini, Hari menyarankan investor untuk tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang masih kuat, namun tetap disiplin dalam manajemen risiko mengingat volatilitas yang masih tinggi dan potensi perubahan sentimen yang cepat.

Beberapa saham pun direkomendasikan untuk diperdagangkan pada pekan ini. Pertama, PNLF dengan entry di harga Rp272, target harga Rp290, dan stop loss di Rp268, yang dinilai masih berpotensi bergerak dalam tren naik pada rentang area 268 hingga 290. Kedua, BDMN dengan entry Rp4.510, target harga Rp5.250, dan stop loss Rp4.030, yang secara teknikal masih menunjukkan pergerakan uptrend didorong oleh rumor akuisisi Bank Danamon oleh MUFG selaku pemegang saham pengendali. Ketiga, MAPI dengan entry Rp1.455, target harga Rp1.605, dan stop loss Rp1.385, yang membentuk pola candlestick marubozu bullish dan didukung akumulasi asing selama sepekan terakhir mencapai Rp11,8 triliun.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar