Dolar AS Menguat Didorong Data Ketenagakerjaan Solid dan Ketegangan AS-Iran

- Senin, 11 Mei 2026 | 08:15 WIB
Dolar AS Menguat Didorong Data Ketenagakerjaan Solid dan Ketegangan AS-Iran

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tercatat menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada awal perdagangan Asia, Senin (11/5/2026). Penguatan ini didorong oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang solid pada akhir pekan lalu, serta meningkatnya ketegangan diplomatik antara AS dan Iran yang kembali mendorong permintaan terhadap aset aman.

Indeks dolar AS, yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat berada di level 98,001 pada perdagangan awal Asia. Angka ini menunjukkan penguatan setelah data menunjukkan penambahan lapangan kerja non-pertanian di AS mencapai 115 ribu pada April hampir dua kali lipat dari perkiraan para analis. Realisasi tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan tanpa perubahan dalam waktu dekat.

Sementara itu, sejumlah mata uang utama justru mengalami pelemahan. Euro tercatat turun 0,2 persen ke level USD1,1767, sementara yen Jepang melemah 0,1 persen menjadi 156,905 yen per dolar. Poundsterling Inggris juga tertekan 0,3 persen ke posisi USD1,3597. Di kawasan Pasifik, dolar Australia yang sensitif terhadap risiko turun 0,2 persen menjadi USD0,7234, dan dolar Selandia Baru melemah 0,3 persen ke level USD0,5948.

Di sisi lain, faktor geopolitik turut memperkuat posisi dolar. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menolak tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington. Trump menyebut respons Teheran sebagai sesuatu yang sama sekali tidak dapat diterima, sehingga menghancurkan harapan akan segera berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama sepuluh minggu terakhir.

Melalui mediator Pakistan, Iran menyampaikan sejumlah tuntutan dalam tanggapannya, termasuk pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan atas hak Iran untuk melanjutkan sebagian aktivitas nuklirnya. Laporan dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa Iran juga mengusulkan pengurangan sebagian uranium yang diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga.

Ketidakpastian ini membuat para pelaku pasar tetap mencermati situasi di Selat Hormuz, yang sebagian besar masih tertutup sejak awal konflik. Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Senin. Minyak mentah Brent tercatat naik 3,3 persen menjadi USD104,65 per barel, menambah tekanan pada pasar global yang sudah diliputi ketidakpastian.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar