PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) resmi mengambil alih lima persen hak partisipasi atau participating interest (PI) atas Wilayah Kerja (WK) Kasuri yang sebelumnya dimiliki oleh Genting Kasuri Pte Ltd, melalui anak usahanya, PT Raharja Energi Negeri (REN). Langkah ini menandai ekspansi strategis perseroan di sektor hulu minyak dan gas bumi.
REN, yang 99 persen sahamnya dimiliki oleh RATU, telah menyelesaikan kesepakatan berupa Farm-Out Agreement (FOA) dan Joint Operation Agreement (JOA) dengan Genting Kasuri, entitas usaha dari Genting Berhad yang berbasis di Singapura. Sebagai bagian dari transaksi, REN telah membayarkan deposit untuk akuisisi hak partisipasi tersebut.
Sekretaris Perusahaan RATU, Supriyanti Priandini, dalam keterbukaan informasi pada Senin (11/5/2026), menyatakan bahwa pelaksanaan kesepakatan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk memperkuat portofolio bisnis di sektor hulu migas.
“Pelaksanaan kesepakatan sehubungan dengan rencana merupakan bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk memperkuat portofolio usaha di sektor hulu minyak dan gas bumi,” ujarnya.
Genting Kasuri sendiri bertindak sebagai operator dan kontraktor pada WK Kasuri berdasarkan Production Sharing Contract (PSC) dengan SKK Migas. Nilai transaksi pengambilalihan ini mencapai 9,65 juta dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp165 miliar dengan asumsi kurs Rp17.300 per dolar AS. Jumlah tersebut ekuivalen dengan 17,05 persen dari total ekuitas perseroan per akhir 2025.
Sebagai induk perusahaan, RATU memberikan jaminan korporasi atau Parent Company Guarantee kepada Genting Kasuri sebagai penjamin atas seluruh kewajiban pembayaran yang harus dipenuhi oleh REN. Langkah ini menunjukkan komitmen penuh perseroan dalam mendukung anak usahanya menjalankan proyek strategis tersebut.
WK Kasuri yang berlokasi di Provinsi Papua Barat tercatat memiliki potensi cadangan gas sebesar 2.244,45 BSCFD dan cadangan kondensat sebanyak 5,4 juta barel setara minyak (MMSTB). Blok ini ditargetkan memulai produksi perdana pada 2027 dengan estimasi kapasitas produksi mencapai 300 MMSCFD.
Proyek ini juga telah memiliki pembeli atau offtaker. Sebanyak 100 MMSCFD akan disalurkan ke pabrik pupuk selama 17 tahun, sementara 200 MMSCFD lainnya akan dibeli oleh PT Layar Nusantara Gas (LNG). Dengan demikian, kepastian pasar bagi produksi gas dari blok ini sudah terjamin sejak tahap awal pengembangan.
Artikel Terkait
Polri Gandeng PPATK Buru Otak Sindikat Judi Online Internasional di Jakarta Barat
Guntur Romli Heran Film “Pesta Babi” Dilarang: “Ada yang Takut pada Kebenaran?”
Pramono Anung Terapkan Pemilahan Sampah di 153 Pasar Jaya, Target Kurangi Volume ke Bantargebang
Jorge Martin Akhirnya Pecah Telur di MotoGP Prancis 2026, Akhir Penantian 588 Hari