Nilai tukar peso Filipina diprediksi masih akan berada dalam tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan ke depan, meskipun bank sentral negara tersebut diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan tahun ini. Tekanan terhadap mata uang Filipina terutama berasal dari lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Negara ini dinilai sangat rentan karena tingginya ketergantungan pada impor minyak serta aliran remitansi dari pekerja migran di luar negeri.
Sepanjang tahun ini, peso Filipina telah melemah sekitar tiga persen ke level 60,61 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh rekor terendah pada akhir April lalu. Sejumlah analis memperkirakan mata uang tersebut masih berpotensi merosot ke kisaran 62 hingga 63 per dolar AS. Bank sentral Filipina, Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), diperkirakan akan menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin sepanjang tahun ini. Dalam kondisi normal, kebijakan tersebut dapat menopang nilai tukar dengan menarik aliran modal asing. Namun, situasi saat ini berbeda karena kenaikan harga minyak justru memaksa Filipina mengeluarkan lebih banyak dolar untuk impor energi, yang pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi dan memperlebar defisit neraca perdagangan.
“Kami memperkirakan peso masih akan cenderung melemah pada 2026 karena prospek pertumbuhan yang tidak pasti, defisit transaksi berjalan yang lebar, dan risiko inflasi yang tinggi,” ujar Kepala Riset Asia Australia & New Zealand Banking Group, Khoon Goh. Ia menambahkan bahwa peso Filipina dapat melemah hingga level 63 per dolar AS pada akhir tahun. Senada dengan itu, analis senior BNY, Wee Khoon Chong, menilai lonjakan harga minyak berpotensi menghapus manfaat dari kenaikan suku bunga. Menurutnya, kenaikan biaya impor energi akan memberikan tekanan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi Filipina.
Data ekonomi terbaru menunjukkan perlambatan yang signifikan. Produk domestik bruto (PDB) kuartal I hanya tumbuh 2,8 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan pasar. Konsumsi rumah tangga juga mencatat pertumbuhan paling lambat dalam hampir 16 tahun di luar masa pandemi. Sementara itu, investor asing mulai menarik dana dari pasar saham Filipina. Sejak konflik dimulai, dana global yang keluar dari pasar saham negara tersebut tercatat lebih dari 400 juta dolar AS. Indeks saham Filipina pun turun 1,5 persen sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu yang terburuk di Asia Tenggara setelah Indonesia.
Tekanan inflasi juga semakin nyata. Inflasi konsumen pada April tercatat naik paling cepat dalam tiga tahun terakhir. Analis Sumitomo Mitsui Banking Corp., Jeff Ng, mengatakan tingginya harga energi dapat mendorong pasangan dolar-peso menguji level 62 hingga 63. “Biaya energi yang tinggi dapat mendorong pasangan dolar-peso menguji level 62 hingga 63,” ujarnya.
Di sisi lain, pasar kini menyoroti potensi penurunan remitansi dari pekerja migran Filipina di Timur Tengah akibat perang Iran. Pemerintah Filipina memperkirakan pengiriman pekerja ke kawasan tersebut dapat turun hingga separuh tahun ini. Sekitar 2,4 juta warga Filipina bekerja di Timur Tengah, dan remitansi menjadi salah satu sumber utama devisa negara. Analis MUFG Bank, Michael Wan, menegaskan bahwa negara-negara yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah menghadapi risiko besar jika Selat Hormuz tetap ditutup akibat konflik. “Filipina, seperti yang selama ini kami soroti, termasuk dalam kelompok negara yang rentan,” katanya.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Melemah, Mayoritas Sektor Tertekan di Awal Pekan
Paljaya Hadirkan Layanan Operasional dan Pemeliharaan IPAL untuk Gedung Perkantoran di Jakarta
Pemerintah Siapkan Insentif Kendaraan Listrik, Target Berlaku Juni 2026
PSM Makassar Selamat dari Degradasi, Pengamat Nilai Tim Harus Kembali ke Papan Atas