Banjir menerjang Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, setelah Sungai Balo-Balo meluap dan merendam pemukiman warga, lahan persawahan, serta area perkebunan pada Jumat, 8 Mei 2026, pukul 10.00 WITA. Peristiwa ini dilaporkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan data yang dihimpun dari lapangan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa luapan sungai tersebut berdampak langsung pada Desa Balo-Balo di Kecamatan Watu. “Luapan Sungai Balo-Balo yang merendam permukiman warga dan lahan persawahan serta perkebunan di Desa Balo-Balo, Kecamatan Watu,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Senin, 11 Mei 2026.
Akibat kejadian ini, sedikitnya enam kepala keluarga (KK) terdampak langsung. Sementara itu, hasil kaji cepat yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat kerusakan yang lebih luas. Sekitar 80 hektare lahan persawahan, 10 hektare kebun sawit, dan 10 hektare area tambak turut terendam banjir.
Memasuki hari Minggu, 10 Mei 2026, banjir dilaporkan mulai surut. “Pada Minggu (10 Mei) banjir dilaporkan telah surut menyusul tim gabungan melakukan penanganan dan monitoring ketinggian air,” kata Abdul. Proses penanganan dan pemantauan terus dilakukan oleh tim gabungan untuk memastikan kondisi kembali normal.
Di tengah masa pemulihan, BNPB mengingatkan bahwa Indonesia kini memasuki periode peralihan musim dari penghujan menuju kemarau. Perubahan pola cuaca pada masa transisi ini dinilai berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. “Perubahan pola cuaca yang terjadi pada masa transisi musim berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi singkat yang dapat memicu banjir, tanah longsor, dan angin kencang,” ungkap Abdul.
Menghadapi potensi tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana diminta untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi pemerintah, seperti BMKG dan BNPB. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan dan saluran air juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko.
Pemerintah daerah didorong untuk memastikan sistem peringatan dini berjalan optimal. Langkah-langkah strategis seperti meningkatkan kesiapsiagaan personel dan peralatan, menyiapkan jalur evakuasi serta logistik darurat, dan memperkuat sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi, harus segera dilakukan.
Artikel Terkait
Adu Mulut Suporter Usai Nobar di Lido, Polisi Turun Tangan Bubarkan Kerumunan
Polda Riau Kenalkan Program Green Policing ke Siswa SD untuk Tanamkan Kesadaran Lingkungan
Al Ghazali dan Alyssa Daguise Sambut Kelahiran Anak Pertama, Bayi Perempuan Bernama Soleil Zephora Ghazali
Pengendara Motor Penghalang dan Perusak Ambulans di Depok Ditangkap Polisi