Puan Desak Pemerintah Percepat Informasi dan Antisipasi Hantavirus

- Senin, 11 Mei 2026 | 19:05 WIB
Puan Desak Pemerintah Percepat Informasi dan Antisipasi Hantavirus

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Puan Maharani, mendesak pemerintah untuk memberikan informasi yang cepat dan tepat mengenai Hantavirus, virus yang belakangan menjadi sorotan global. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur kesehatan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus tersebut.

“Pemerintah harus hadir lebih cepat dalam memberikan kepastian informasi dan perlindungan masyarakat dalam menghadapi ancaman Hantavirus. Termasuk ketepatan informasi agar masyarakat tenang dan tidak panik dengan munculnya kasus virus ini,” kata Puan dalam keterangan resminya pada Senin, 11 Mei 2026.

Hantavirus mendapat perhatian dunia setelah menyerang kapal pesiar mewah MV Hondius yang tengah berlayar di Samudra Atlantik. Tiga penumpang kapal tersebut meninggal dunia akibat virus ini, sehingga memicu kekhawatiran global. Salah satu variannya, Andes virus, diketahui dapat menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.

Secara ilmiah, Hantavirus merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang umumnya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Virus ini tergolong penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Di tengah perbincangan global akibat wabah di kapal pesiar Eropa, Indonesia ternyata telah mencatat kasus Hantavirus dalam beberapa waktu terakhir. Kementerian Kesehatan mengungkapkan adanya 23 kasus yang tersebar di sembilan provinsi. Meski telah tercatat tiga kematian dalam tiga tahun terakhir, jenis Hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan varian yang memicu wabah di kapal MV Hondius.

Menanggapi situasi ini, Puan menilai kemunculan kasus Hantavirus di Indonesia perlu ditangani dengan pendekatan yang tenang, terbuka, dan berbasis perlindungan masyarakat.

“Tantangan terbesar dalam menghadapi munculnya ancaman penyakit yang belum umum perlu dilakukan dari berbagai aspek,” ujar perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI tersebut.

“Bukan hanya pada aspek medis saja, tetapi juga pada kemampuan negara menjaga kepercayaan masyarakat melalui informasi yang jelas, langkah antisipasi yang terukur, dan perlindungan yang dapat dirasakan masyarakat,” imbuhnya.

Puan mengingatkan bahwa masyarakat saat ini hidup dalam situasi yang sangat sensitif terhadap isu kesehatan setelah pengalaman pandemi Covid-19. Meskipun penularan Hantavirus tidak secepat Covid-19, masyarakat pernah merasakan hidup dalam ketidakpastian saat awal pandemi muncul, sehingga kekhawatiran terhadap penyakit menjadi lebih besar.

“Karena itu, negara perlu memastikan bahwa setiap informasi mengenai penyakit menular disampaikan secara transparan dan bertanggung jawab agar tidak memunculkan ketakutan maupun kebingungan di tengah masyarakat,” pesan Puan.

Sebagai langkah antisipasi penyebaran Hantavirus, Puan memandang pemerintah perlu bergerak cepat memastikan masyarakat memahami situasi secara utuh. “Bagaimana pola penularannya, siapa kelompok yang paling rentan, bagaimana langkah pencegahannya, dan sejauh mana tingkat risikonya bagi masyarakat umum,” ungkapnya.

Menurut Puan, keterbukaan informasi menjadi bagian penting dari perlindungan publik. Sebab ketika masyarakat tidak mendapatkan penjelasan yang cukup, ruang disinformasi dan ketakutan dapat berkembang lebih cepat daripada penanganan itu sendiri.

“Maka penting agar pemerintah memperkuat komunikasi publik kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat dan mudah dipahami. Bukan hanya berbasis penjelasan teknis yang sulit diakses publik luas. Sosialisasi harus menyentuh langsung akar rumput,” papar Puan.

Di sisi lain, mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ini juga menyoroti pentingnya kesiapan layanan kesehatan daerah dalam mendeteksi dan menangani penyakit zoonosis secara cepat. Puan meminta pemerintah memperkuat surveilans untuk mencegah adanya penularan virus.

“Kita bersyukur temuan suspect Hantavirus di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan WNA di Jakarta yang masuk kontak erat klaster MV Hondius telah dinyatakan negatif. Namun pemantauan dan surveilans harus terus diperkuat,” ucapnya.

Puan mengatakan, ancaman penyakit berbasis lingkungan sering kali pertama kali muncul di daerah dengan kapasitas layanan kesehatan dan pengawasan lingkungan yang belum merata. Untuk itu, ia mendorong agar pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan kasus yang sudah muncul.

“Tetapi juga memperkuat kesiapan daerah, termasuk kesiapan fasilitas kesehatan dan tenaga medis, laboratorium dan sarana penunjang lainnya, serta mekanisme deteksi dini, pelaporan yang cepat,” terang Puan.

“Dan tentunya perlindungan masyarakat di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi harus menjadi perhatian,” sambung cucu Bung Karno itu.

Puan menegaskan, masyarakat perlu merasakan kehadiran negara sejak tahap awal munculnya ancaman kesehatan, bukan setelah kasus berkembang luas. “Kami di DPR melalui alat kelengkapan dewan terkait akan memastikan pemerintah bergerak cepat, terbuka, dan mampu memberi rasa aman kepada masyarakat melalui langkah yang jelas dan dapat dipantau masyarakat,” ujar Puan.

Menurutnya, keberhasilan negara menghadapi ancaman kesehatan tidak hanya diukur dari rendahnya jumlah kasus, melainkan dari kemampuan negara menjaga ketenangan masyarakat. “Juga dengan membangun kepercayaan publik, dan memastikan setiap warga merasa terlindungi ketika menghadapi potensi risiko kesehatan baru,” tutupnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar