Perwira Israel Akui Frustrasi Hadapi Drone Hizbullah di Lebanon: Peralatan Tak Memadai

- Rabu, 29 April 2026 | 13:30 WIB
Perwira Israel Akui Frustrasi Hadapi Drone Hizbullah di Lebanon: Peralatan Tak Memadai

TEL AVIV Ada pengakuan yang cukup mengejutkan datang dari dalam tubuh militer Israel. Para perwira Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengaku frustrasi berat. Mereka bilang, perang darat di Lebanon terasa seperti berjalan di kegelapan tanpa senter. Masalah utamanya? Peralatan yang tidak memadai untuk menghadapi serangan drone Hizbullah.

Bayangkan, Anda dikirim ke medan perang, tapi tangan kosong. Itulah yang dirasakan pasukan Zionis di sana. Serangan drone dari kelompok pro-Iran itu terus menghujani pos-pos mereka. Setiap hari, hampir selalu ada laporan korban. Baru-baru ini, satu tentara Israel tewas karena ledakan drone. Tragis.

Seorang pejabat militer senior, yang meminta namanya dirahasiakan, bicara terus terang ke Army Radio. Katanya,

“Kami memasuki perang di Lebanon tanpa peralatan yang memadai untuk menghadapi ancaman drone.”

Pernyataan ini dirilis Rabu (29/4/2026) dan langsung bikin heboh. Drone kamikaze, begitu mereka menyebutnya, benar-benar jadi momok. Di tengah rentetan serangan lain dari Hizbullah, ancaman dari udara ini yang paling bikin pusing.

Menurut laporan Army Radio, masalah ini bahkan sempat jadi topik panas di forum komando senior tentara Israel di Ramat David. Para komandan lapangan mengaku frustrasi. Mereka gagal menemukan cara jitu untuk melawan ancaman yang terus meningkat ini.

Situasi di lapangan? Jangan ditanya. Seorang prajurit Israel yang bertugas di sana cuma bisa pasrah. Katanya,

“Tidak banyak yang bisa dilakukan. Pengarahan yang diberikan kepada pasukan terbatas pada: Tetap waspada, dan jika Anda melihat drone, tembaklah.”

Instruksi yang terdengar sederhana, bahkan naif. Tapi itulah kenyataannya.

Di sisi lain, beberapa unit IDF mulai coba akal-akalan sendiri. Mereka memasang jaring di pos-pos, rumah, dan jendela. Idenya, supaya drone yang terbang rendah bisa terperangkap dan tidak meledak mengenai sasaran. Seorang perwira Israel menyebut ini sebagai respons improvisasi.

“Kami mulai menerapkannya dengan beberapa pasukan, tapi itu masih jauh dari cukup,” ujarnya.

Uniknya, ini bukan kali pertama Hizbullah menggunakan drone. Dan ini juga bukan kegagalan pertama Israel dalam menanggulanginya. Menurut Army Radio, Angkatan Darat Israel sebenarnya punya cukup waktu untuk belajar. Sejak perang Rusia-Ukraina pada pertengahan 2023, penggunaan drone di medan perang sudah meluas. Belum lagi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Semua itu seharusnya jadi alarm.

Namun begitu, nyatanya persiapan masih jomplang. Bahkan, Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir dilaporkan sudah menegur Komandan Angkatan Udara Tomer Bar lewat memo komando enam bulan lalu. Isinya soal kegagalan menangani ancaman drone. Teguran itu, seperti angin lalu.

Di medan perang, frustrasi terus menggerogoti. Dan sampai sekarang, belum ada solusi jitu yang benar-benar bisa diandalkan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar